Rabu, 07 Desember 2011

INSTALASI ! ! kabel atas tanah

2.1    Instalasi Kabel Udara
                  Konstruksi jaringan atas tanah ini masih banyak dipakai di negara kita karena mempunyai keuntungan dibanding konstruksi jaringan bawah tanah, diantaranya :
a)    Biaya pemasangan relatif murah;
b)    Pemeliharaan dan penanggulangan gangguan lebih mudah dan cepat;
c)    Sesuai untuk kabel kapasitas kecil
            Dalam pemasangan atau instalasi Kabel Udara dapat dilaksanakan dengan beberapa macam cara, yang disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi tempat pemasangan, keadaan rute dan lain sebagainya

2.1.1    Perkakas

Disini yang akan kita bahas adalah perkakas yang dipergunakan pada waktu pemasangan Kabel Udara.
Adapun perkakas kerja tersebut adalah :

2.1.1.1.    Rol Kabel Udara

Dipasang pada tiap-tiap tiang sepanjang jarak yang direncanakan unutk penarikan kabel udara.
Pemasangan rol pada setiap tiang sedapat mungkin 20 cm sampai dengan 30 cm lebih tinggi dari penjepit kabel.
Pada tiang yang berada ditikungan digunakan rol khusus seperti terlebih dalam gambar berikut.
Gambar  2.1  : 
Rol Kabel Udara
Gambar  2.2  :
Rol kabel pada tikungan
2.1.1.2.    Tali Penarik Kabel Udara
Tali penarik Kabel Udara diameter ½ inchi terbuat dari baja. Sebaiknya panjang tali penarik melebihi jarak dari satu gawang dan tidak ada sambungannya. Tetapi apabila terpaksa disambung, sambungan tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah masuk dalam rol kabel


Ukuran
Jenis
L
D
E
S
M
Nomor 1
82
22
58
6
12
Nomor 2
124
37
81
9
19,5
Nomor 3
178
49
123
11
25
Tabel No. 2.1 : Jenis dan Ukuran Counter Twist Device

 




2.1.1.3.Alat Anti Pulir
            Ada kemungkinan  bahwa pada waktu penarikan terjadi puliran yang tidak beraturan, yang dapat merusak kabel.
            Untuk mencegah kejadian itu maka dipasang alat anti pulir  yang dapat menyerap puliran yang berasal dari tali penariknya sendiri. Konstruksi dari alat anti pulir terdiri dari counter weight dan counter twist seperti terlihat pada gambar ini.


Keterangan :                            
1. Counter Weight Holder
2. Counter Weight Proper
3. Counter Twist Device
Gambar  2.3 :
Counter Weight
Gambar  2.4 :
Counter Twist Device



2.1.1.4.Katrol

Katrol diperlukan untuk penarikan kabel bila membutuhkan daya tarik yang kuat / tinggi. Biasanya alat ini disebut Tackel, dimana disamping alat tersebut dapat juga menggunakan tirfor.
Gambar  2.5  :  Katrol penarik

2.1.1.5.Alat Penarik Kabel

Alat penarik Kabel Udara disebut Track Tang, yang dipakai di atas tiang untuk menegangkan Kabel Udara.
Gambar  2.6  :  Alat penarik kabel

2.1.1.6.Dongkrak Kabel

               Dongkrak kabel digunakan sebagai penyangga haspel kabel pada ketinggian tertentu dan melepas kabel dari haspel pada waktu penarikan. Tinggi haspel di atas dongkrak adalah 10 cm dari permukaan tanah

2.1.2.   Material

Dalam pemasangan Kabel Udara disamping tumpukan dan kabel udara diperlukan material untuk menambatkan kabel pada tumpuan antara lain :

2.1.2.1.        Kabel Udara
           
            Kabel Udara adalah kabel yang konstruksinya dibuat khusus untuk dipasang diatas tanah. Spesifikasi Kabel Udara yang digunakan mengacu kepada STEL-K-001

2.1.2.2.        Tiang / Tumpuan
           
            Tiang dipergunakan sebagai tempat bertumpu atau tempat menambatkan kabel atas tanah sehingga aman dari kemungkinan gangguan mekanik.
            Kabel udara dipasang, digantungkan atau ditambatkan pada setiap tiang. Pada umumnya terdapat beberapa jenis atau macam tiang.

Macam-macam tumpuan yang digunakan :
·   Tiang besi
Tiang besi yang digunakan harus sesuai dengan STEL-L-003, 018,019 dan 020. tiang jenis ini banyak digunakan di Indonesia
·   Tiang kayu
Tiang kayu ada dua macam yaitu taing kayu bentuk balok dengan penampang segi empat dan bentuk silindris (berpenampang bulat) serta terbuat dari jenis kayu kelas I (Jati, Rasamala, kayu Besi) yang sudah diawetkan. Jenis tiang ini sudah jarang digunakan.
·   Tiang beton,
Tiang beton yang dipergunakan adalah tiang beton pra tekan berpenampang bulat yang terdiri dari beberapa ukuran. Tiang jenis ini sangat cocok dipergunakan untuk daerah rawan korosi. Spesifikasi tiang beton mengacu pada STEL-L-022, STEL-L-023 & STEL-L-024.

2.1.2.3.        Sekang Ulir / Spanwartel
           
            Umumnya spanwartel yang digunakan mempunyai ukuran ½ inchi atau 3/8 inchi.

2.1.2.4.        Baut 5/8”;
           
            Panjang 120 mm dengan kepala persegi ukuran 20 x 20 x 13 mm.

2.1.2.5.    Isolasi PVC atau Kawat Ikat 0,8 mm.
           
            Dililitkan pada kabel udara dikedua sisi sebagai penahan pemisah/Split Stopper.
2.1.2.6.    Besi Sekang / Pole Strep

Ukuran pole strap :                                                 
- Diameter = 75 mm
- Tebal       =   5 mm
- Lebar       = 40 mm
Gambar  2.7  :  Pole Strap Biasa
Gambar  2.8  :  Pole Strap  “J”

2.1.3.    Pemasangan Tiang dan Alat Bantu
2.1.3.1.    Cara Penanaman Tiang
Penanaman tiang besi :
a)    Membuat lubang untuk untuk penanaman tiang dengan ukuran sebesar diameter tiang ditambah 5 cm disekelilingnya dan dengan kedalaman 1/5 panjang tiang.
b)    Tiang didirikan tegak lurus ditengah-tengah lubang, kemudian lubang ditimbun dengan tanah bekas galian dan dipadatkan.
c)    Tiang dicat dengan cat besi warna hitam dan ban warna perak (gbr. No 2.10).
d)    Untuk mencegah korosi, pada bagian tiang yang berada kurang lebih 30 cm diatas atau dibawah permukaan tanah, harus dicor beton ( voetstuk ).

Gambar  2.9  :  Lubang Galian Penanaman Tiang Besi
Gambar  2.10  :  Pengecatan Tiang

1)    Cara pembuatan Kaki beton (Voetstuk) :
a)    Memasang cetakan kaki beton untuk tiang (gbr. No 1.11)
b)    Cetakan kaki beton dicor beton dengan campuran semen : pasir : koral = 1 : 2 : 3.
c)    Tinggi kaki beton tersebut adalah 60 cm, yaitu 30 cm diatas dan 30 sm dibawah permukaan tanah atau 40 cm diatas dan 20 cm dibawah permukaan tanah.
d)    Setelah beton kering dan cetakan dibongkar, kemudian ditimbun tanah dan diratakan. Bagian yang berada diatas permukaan tanah diplester halus, permukaannya dibuat landai dengan sudut kemiringan 150
Gambar  2.11  : 
Pemasangan Cetakan Kaki Beton

¨       Penanaman tiang beton
Cara penanaman tiang beton dengan menggunakan kaki tiga sebagai berikut :
a)    Membuat lubang galian dengan ukuran sebesar diameter tiang ditambah 10 cm berkeliling dan dengan kedalaman 1/6 panjang tiang ditambah 20 cm untuk lapisan dasar.
b)    Sebelum tiang beton ditanam, batu-batuan ukuran sedang (diameter 5-20 cm) atau sirtu / koral dimasukan kedasar lubang sebagai lapisan dasar setebal 20 cm. (gbr. No 1.12).
c)    Memasang peralatan kaki tiga dan katrol sehingga posisi tengah-tengah tiang berada dibawah puncak kaki tiga tersebut.
d)    Tiang ditambat pada katrol dengan bantuan kawat sling dengan posisi ikatan kawat ± 0,55 panjang tiang dari ujung bawah, selanjutnya tiang didirikan ditengah-tengah lubang dengan bantuan katrol (gbr. No. 2.13).
e)    Setelah diteliti bahwa tiang sudah berdiri tegak lurus, kemudian lubang ditimbun dan dipadatkan. Selanjutnya dilakukan pemadatan dengan ukuran sirku / koral dan batu-batuan pada celah lubang antara tiang beton dan tanah lapis demi lapis secara merata dengan menggunakan linggis.
f)     Setelah pemasangan tiang selesai peralatan kaki tiga dibongkar.
Keterangan :
D = Diameter Galian
H = Tinggi Tiang Beton                                              
H = Tinggi Tiang Beton
D = Diameter Galian
Gambar  2.12 : Pondasi Tiang Beton
Gambar  2.13  : Penanaman Tiang Beton dengan Kaki Tiga



¨       Penanaman Tiang Kayu
Uraian kerjanya sama dengan mendirikan tiang besi, perbedaannya adalah bahwa, pada penanaman tiang kayu tidak diperlukan pemasangan kaki beton. Sebagai gantinya maka bagian tiang yang tertanam harus dibalut karung / goni yang dicelup dengan bahan anti rayap.

2.1.3.2.    Pemasangan Temberang

Tembarang adalah suatu perlengkapan pada tiang yang berfungsi untuk memperoleh keseimbangan gaya yang bekerja pada suatu tiang dengan maksud agar tiang tetap berdiri dengan tegak dan kuat. Jadi sifat dari temberang ini adalah menetralisir gaya yang bekerja pada tiang tersebut terutama yang disebabkan oleh tarikan kabel / saluran.

Macam Temberang
1)   Temberang Tarik / Track Schoor / Stay ;
Temberang tarik adalah temberang yang dibuat dari beberapa kawat baja yang dipilin jadi satu dan dipasang langsung pada tiang dengan menggunakan perlengkapan bentu berupa batang besi, pelat besi dan sekarang ulir / span wartel.

Keterangan :
1.     Tiang                        
2.     Stag klem                 
3.     Span wartel               
4.     Timble
5.     Buldogrip
6.     Kawat Temberang
7.     Batang Besi
8.     Besi Plat                   

 


Gambar 2.14. Temberang Tarik
Cara pemasangan Temberang tarik :
a)    Besi sekarang dipasang pada tiang yang memerlukan temberang, sekaligus dilengkapi dengan span wartel.
b)    Membuat lubang galian untuk penanaman plat besi tembeang dengan ukuran panjang (50 x 50) cm2 dan kedalaman 140 cm.
c)    Kawat temberang (kawat baja pilin 7x 1,2 mm atau 7 x 1,5 mm atau kawat besi 4 mm) bagian ujungnya dikaitkan pada span wartel dan diperkaut dengan buldog grip 3 buah (jarak 5 cm ; 1,5 cm dan 1,5 cm)
d)    Pada bagian pangkal/ujung bawah diikat mati pada batang temberang
e)    Untuk mengencangkan kawat temberang dengan cara memutar sekang ulir (span wartel)
f)     Bagian dari batang besi tembeang yang muncul dipermukaan tanah sepanjang 40 cm.

2)   Temberang Sokong / Tunjang ;
Temberang yang menggunakan tiang sebagai penyokong/ penunjang dan dipasang karena ditempat tersebut tidak memungkinkan dipasang temberang tarik.

Gambar  2.15  :  Temberang Sokong
Cara Peamsangan Temberang Sokong.
a)    Tiang penyokong ditanam sedalam 140 cm dengan sudut kemiringan 450 dan posisi berlawanan terhadap arah gaya yang bekerja pada tiang rute yang disokong. Sudut kemiringan bisa diubah sesuai kondisi lapangan.
b)    Pada dasar galian tiang sokong ditimbun / ditopang dengan batu-batu besar untuk menahan tekanan yang bekerja pada tiang sokong agar tidak amblas kedalam tanah.
c)    Tiang penyokong dipasang menempel pada tiang rute dengan menggunakan besi sekang seperti terlihat pada gambar 2.15
3)   Temberang langgar jalan (Labrang).
Temberang labrang ini menggunakan tiang bantu karena pada tempat tersebut situasinya tidak dapat dibuat temberang tarik langsung maupun temberang sokong.
Misalnya pada lokasi dimana disebelah kanan rute ada sungai dan disebelah kiri ada jalan.
Gambar 2.16 : Temberang Labrang
Cara Pemasangan Temberang Labrang.
a)    Tiang bantu dipasang berseberangan jalan dengan tiang telepon dan posisinya berlawanan arah terhadap bekerjanya gaya yang akan dilawan.
b)    Kawat temberang dipasang menyilang jalan dan ditarik antara tiang rute dan tiang bantu
c)    Mengencangkan temberang dengan cara mengatur sekang ulir (span wartel)

¨       Pemakaian Temberang
Pada tiang awal dan akhir dari rute kabel  udara

Gambar 2.17 :
Tiang akhir rute Kabel Udara

a)    Pada tiang yang merupakan titik belok dari suatu rute dimana sudut tikunganya lebih besar dari 150;
Gambar 2.18 : Rute Tikungan

b)    Pada rute lurus dengan beban yang cukup berat dan yang sering mengalami gangguan angin kencang;Untuk rute semacam ini biasanya dipasang temberang angin pada setiap 5 (lima) gawang atau sesuai kebutuhan.  Misalnya rute ditengah sawah, ditepi jalan kereta api.
c)    Pada tiang yang ada peralihan kapasitas kabel (dari kabel besar ke kabel kecil);
d)    Pada tiang yang jatuh keberapa saluran penaggal ke beberapa jurusan.

2.1.4.    Cara Penambatan Kabel Udara

Cara penambatan kabel udara pada tiang ada beberapa macam disesuaikan dengan kebutuhan atau kondisi lapangan. Pembahasan selanjutnya hanya akan diuraikan instalasi kabel udara dengan menggunakan tumpuan tiang kabel.

2.1.4.1.        Cara Gantung
¨       Cara ini diterapkan pada :
a)    Rute lurus kabel udara ;
b)    Didaerah yang jarang terjadi angin kencang
c)    Tiang antara pada rute lurus kabel udara dengan jarak antar tiang (gawang) antara 40 meter sampai dengan 50 meter
Gambar 2.19 :Konstruksi Cara Gantung Pada Tiang Besi

¨       Cara Pemasangan
Besi sekang/pole strap type “J” dapat dipasang sebelum atau sesudah tiang besi didirikan.
Pemasangan kabel udara pada tiang dilakukan dengan cara menjepit bearer kabel pada penjepit polestrap.

2.1.4.2.        Cara tambat

Cara ini dipergunakan terutama pada :
a)    Rute kabel udara yang berbelok/menikung;
b)    Rute lurus yang jarak antar tiangnya melebihi jarak normal atau lebih panjang dari 50 meter (> 50 m / rentang jauh);
c)    Didaerah yang sering terjadi angin kencang;
d)    Rute lurus dengan kabel udara yang berkapasitas besar (> 80 pair). Dalam hal ini kabel udara ditambat pada setiap 5 (lima) tiang atau lebih menurut pertimbangan teknis dipandang aman.
Dalam pelaksanaan penambatan harus diusahakan tidak memotong kawat penggantung (bearer). Penambatan dilakukan dengan menggunakan alat bantu khusus.

Keterangan:
1. Tiang                      5. Timbel
2. Stag klem               6. Buldogrip
3. Besi S                    7. Timbel
4. Span Wartel            8. Buldogrip

Gambar 2.20 :Konstruksi Cara Tambat Pada Tiang Besi

Gambar 2.21 : Cara Tambat Kabel UdaraTanpa Memotong Bearer
¨       Cara Pemasangan :
Pasang track tang pada tiang tambat dan jepitan kawat penggantung kabel udara dengan menggunakan track tang tersebut. Beri tanda kupasam pada penggantung kabel. Selanjutnya pasang besi sekang dan sekang ulir pada tiang tambat. Kemudian potong kawat penggantung dan tambatkan pada besi sekang dengan perantaraan sekang ulir dan ikat degan 3 (tiga) buah buldog grip.

2.1.4.3.        Cara tambat akhir / awal
¨       Cara ini dipergunakan pada :
a)    Tiang Kotak Pembagi (TKP);
b)    Tiang yang terdapat Kotak Sambung, yang tempat penyambungan kabel udara.
Gambar  2.22  : 
Cara tambat akhir pada tiang besi
¨       Cara Pemasangan :
Pada tiang tambat dipasang temebrang tarik / sokong (tergantung pada kondisi rute)
Setelah kabel udara ditarik cukup tegang dan kedua sisi kiri dan kanan ditahan dengan track tang, maka kawat penggantng dipotong serta dikupas, kemudian diikatkan pad besi sekang melalui sekang ulir dan tembel lalu diikat dengan 3 (tiga) buah buldog grip.

2.1.5    Cara Penarikan Kabel Udara
2.1.5.1.Persiapan Penarikan

      Dalam penarikan kabel udara harus diperhatikan posisi kepala dan ekor kabel, dimana kepala kabel harus berada disisi arah sentral.
  • Pemasangan penjepit kabel udara;
      Semua penjepit kabel udara harus dikerjakan/terpasang lebih dulu pada setiap tiang yang akan digunakan sebagai tumpuan rute kabel udara dengan cara seperti telah diuraikan pada cara penambatan kabel udara.
      Besi sekang atau penjepit kabel dipasang pada jarak 10 cm dari ujung tiang.

  • Pemasangan rol kabel udara;
      Pada setiap tiang harus dipasang rol kabel guna memperlancar jalanya penarikan kabel udara, disamping untuk menghindari terjadinya gesekan kabel dengan benda keras lainya.

  • Haspel Kabel;
      Haspel harus ditempatkan pada dongkrak dan diangkat pelan-pelan setinggi lebih kurang 10 cm dari permukaan tanah, baru kemudian plat besi atau kawat papan penutup haspel dibuka.
  • Pengupasan Penggantung Kabel (Bearer);
      Bearer dikupas untuk mengikat dengan tali penarik.
a)    Pisahkan Bearer dari kabel udara sepanjang kurang lebih 30 cm; kemudian potong kabelnya kurang lebih 30 cm;
b)    Pasangkan End Cap pada ujung kabel udara yang telah dibuka/bekas potongan tadi.

Gambar  2.23  :  Pemotongan kabel dan pemasangan End Cap
·   Pemasangan alat anti pulir;
a)    Masukan bearer kabel pada alat anti pulir; dengan menggunakan timbel;
b)    Bearer ditekuk melalui timbel dan dililit kemudian diikat dengan buldog grip;
c)    Pasang tali penarik pada alat anti pulir pada ujung satunya dengan cara yang sama.
·   Pemasangan talil penarik;
Tali penarik dipasang pada rol kabel udara yang telah dipasang

2.1.5.2.    Penguluran Kabel Udara

         Apabila persiapan telah selesai, maka pekerjaan kabel penarikan bisa dimulai dengan cara sebagai berikut :
a)    Kabel digelar sepanjang rute baru, dinaikkan di atas rol kabel;
b)    Tali penarik dilewatkan rol kabel, kemudian ditarik tiang per tiang;
c)    Bila penarikan berat, dapat digunakan tackel;
d)    Penarikan diberi aba-aba oleh ketua regu;
e)    Dalam penarikan kabel harus diperhatikan :
Ø  Putaran dan kedudukan rol kabel harus selalu sudah benar, hal ini bertujuan agar penarikan tidak terlalu berat;
Ø  Pada tikungan / belokan perlu diawasi secara khusus;
Ø  Alat anti pulir jangan sampai menggantung.
f)     Setelah selesai penarikan, lepas peralatan anti pulir, kemudian buat tambatan awal, seperti pada acara tambat akhir dengan sistem buldog grip maupun sistem lilit kemudian pasang tambatan bearer ke sekang pemasang pada tiang.

2.1.5.3.    Menegang / Mengencangkan kabel

Pekerjaan ini dilakukan dengan cara dengan membuat tambatan lebih dulu dan sekaligus mengencangkannya, adapun langkah pelaksanannya adalah sebagai berikut :
a)    Keluarkan kabel dari rol, dan letakan pada penjepit kebal;
b)    Pasang track tang pada tiang dimana cara tambat yang akan dibuat;
c)    Jepitkan bearer pada alat track tang, kmeudian kencangkan kabel udara dengan cara menarik tangkai track tang;
d)    Setelah kencang beri tanda untuk pengupasan bearer, dan turunkan kembali kabel udara tersebut. Buat tambatan pada bearer dengan diikat buldog grip atau sistem lilit. Gunakan timbel pada kedua sisinya
e)    Jepit lagi bearer pada track tang dan kencangkan lagi kabel udara dengan menarik tangkai penarik track tang, kemudian tambatkan bearernya;
f)     Atur lentur kabel dengan mengencangkan atau mengendorkan span wartel;
g)    Untuk rute lurus jepit bearer pada penjepit kabel yang sudah terpasang ditiang;
h)    Pasang tambatan bearer pada sisi yang lain ditiang dengan cara tambat tadi;
i)      Tegangkan kabel pad rute selanjutnya dengan cara yang sama

2.1.5.4.    Membuat tambatan Akhir

a)    Pasang track tang pada tiang tambat akhir;
b)    Jepit bearer pada track tang, kemudian kencangkan kabel udara dengan menarik tangkai penarik track tang;
c)    Beri tanda untuk kupasan bearer dan turunkan kabl udaranya;
d)    Buat tambatan bearer pada track tang, kencangkan kabel udara dan pasang tambatan bearer pada tiang. Lepas track tang dari bearer dan tiang;
e)    Untuk menegangkan dalam mengatur lentur kabel, kencangkan atau kendorkan spanwartel

2.1.5.5.    Pemuliran
a)    Seperti diketahui karena ringannya kabel udara, kadang-kadang bergoyang bila dihempas angin. Menurut pengalaman untuk mengurangi goyangan pada kabel udara, rentangan kabel udara tersebut perlu diberikan sejumlah puliran pada waktu selesai mengatur lentur;
b)    Puliran diberikan kepada kabel udara, terutama ditempat-tempat yang banyak angin;
c)    Bila puliran terlampau banyak, juga akan menimbulkan kekuatan yang dapat merusak kabel;Oleh seb
d)    ab itu perlu diperhatikan supaya jumlah puliran jangan sampai melampaui jumlah yang ditentukan.
Jumlah Puliran
a)    Apabila penampang kabel (termasuk kawat penggantung) sampai dengan 30 mm, jarak puliran yang satu dengan yang lainnya 10 m
b)    Apabila penampang kabel lebih dari 30 mm, untuk menghitung panjang dan jumlah puliran dipakai rumus sebagai berikut :
P = (350 x A) cm

Dimana                 :    
A= Penampang (cm)
P= Panjang puliran
S= Panjang Gawang (meter)
N=Jumlah puliran
Contoh            :          
Penampang kabel udara 40 mm
            =  4 cm (A)
Panjang puliran adalah  350 x 4
           =  1400 cm
           =  14 m (P)
Panjang Gawang                   
          =  50 m (S)
Maka jumlah puliran (N)
         N = 50/14 = 3,5
Dalam hal ini  dapat diatur, gawang pertama 3 (tiga) puliran dan gawang 4 (empat) puliran.

Cara membuat puliran
a)    Lepaskan kabel udara dari penjepit kabel ditiang;
b)    Putar kabel pada B mislnya 5 puliran, sesuai dengan arah panah, maka jumlah puliran yang sama akan terjadi pada gawang A-B dan gawang B-C;
c)    Jepit kembali kabel udara pada penjepit ditiang;
d)    Lakukan juga di D dan E begitu seterusnya.

Gambar  2.24  :  Membuat puliran

2.1.5.6.    Lentur Kabel
a)    Kabel Udara yang tarik karena adanya gaya berat kabel, tentunya tidak dapat merupakan suatu garis lurus (hasil dari penarikan kabel tersebut), akan tetapi kabel udara akan merupakan garis lengkung (mempunyai lentur).
b)    Defnisi :Lentur (d) adalah selisih ketinggian antara garis lurus tiang antara yang satu dengan yang lain (berikutnya) dengan ketinggian kabel udara sebenarnya yang terendah
Gambar  2.25  : Lentur Kabel

c)    Faktor-faktor yang menentukan lentur (d) dan tegangan (T) adalah :
Ø  Batas putus gaya tegangan (breaking tension) dari kawat penggantung;
Ø  Berat dari kabel udara (kg/m) termasuk kawat penggantung;
Ø  Gaya tegangan tambahan seperti beban tekanan angin dan batas panjang gawang (critical span
d)    Perhitungan lentur
Ø  Rumusan untuk menghitung lntur (d) dan tegangan (T) bagi kabel udara dimaksudkan untuk lentur yang optimum dalam kondisi penggantung kabel (bearer) yang masih aman
Ø  Perhitungan beban tekanan angin ;
Ø  Beban tekanan angin dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut
Text Box: WWw  =  K x D x P x 10-3 Kg/m

Dimana :  
Ww=Beban tekanan angin
K=Koefisien tekanan
     udara (K = 1,1)
P=Tekanan angin (Kg/m2)
D=Dimensi B+C (mm)
     seperti gambar berikut

Gambar  2.26  :  Penampang Kabel Udara
1)      Perhitungan tekanan angin
Untuk menghitung tekanan angin dipakai rumus sebagai berikut :
Text Box: P = ½ P x V2 Kg/m2
Dimana  :       
P  =  Kepadatan udara;
V   = Kecepatan angin
         (m/det).
Kecepatan angin pada dasarnya dibagi menjadi 2 :
a)    Diperkirakan V adalah 8 m/det (tekanan angin 20 Kg/m2) pada temperatur rata-rata 300C;
b)    Dipekirakan V adalah 5 m/det (tekanan angin 10 Kg/m2) pada temperatur rendah
2)      Perhitungan lentur dengan tegangan
e)    Faktor Beban
   Untuk menghitung lentur dan tegangan perlu diketahui faktor beban yang dapat dihitung dengan rumus

Dimana  :
W         =  Berat kabel
                 udara (Kg/m)
Ww      =  Beban tekanan
                 angin
f)     Tegangan Kabel
Data dari kawat penggantung kabel udara dan batas putus gaya tegangnya (Tb):
(1)      Kawat bearer 7 x 1,2 mm = 11.000 Newton
(2)  Kawat bearer 19 x 1,2 mm = 29.000 Newton
(3)  Kawat bearer 7 x 2,0 mm = 29.000 Newton
Dari data bearer di atas dapat dihitung tegangan dari kabel udara yang direntangkan dengan mempertimbangkan faktor keamanan sebagai berikut
Rumus Faktor Kemanan (SF)


Dimana  :
SF  =  Faktor Kemanan
           (SF = 2,5);
Tb  =  Batas putus gaya
            tegang;
T    = Tegangan
Dengan ditentukannya Faktor Keamanan (SF) yang diinginkan (SF = 2,5), maka besarnya tegangan dapat diketahui


Dimana  :    
S =  Panjang gawang;
               T =  Tegangan Kabel          

g)    Lentur
   Setelah diketahui faktor beban q dan besarnya tegangan maka dapat dihitung lentur (d) dengan rumus
Dimana   :      
S = Panjang gawang;
                T = Tegangan Kabel                      
h)    Pengaturan lentur
1)      Pada pemasangan / penarikan kabel udara harus mengikuti perhitungan lentur yang telah ditentukan;
2)      Sebagai pegangan lentur kabel udara untuk di Indonesia ditentukan 2% dari panjang gawang pada suhu 250C dengan tetap memperhatikan unsur keraihan.
3)      Untuk mempermudah pengaturan lentur kabel udara seperti ditentukan di atas, maka dalam penarikanya menggunakan alat track tang, dan penambatanya perlu dipasang span wartel;
4)      Untuk mengatur lentur sesuai dengan syarat yang telah ditentukan, ditempuh cara praktis dalam menentukan lentur kabel udara sebagai berikut :
Ø  Berilah tanda pada tiang A dan B yang menunjukan letak titik lentur sesuai dengan syarat yang ditentukan;
Ø  Lentur maksimum akan dapat diketahui bila dilihat (dengan menarik garis imaginer) dari tanda letak titik  lentur pada tiang A ke arah letak titik lentur pada tiang B dan membandingkannya dengan kondisi titik lentur terendah kabel udara yang ada seperti pada gambar berikut ini :
Gambar  2.27  :  Cara pemeriksaan  lentur kabel udara

2.1.6.    Penyeberangan Rute Kabel Udara
2.1.6.1.    Penyeberangan di atas jalan raya

      Rute kabel udara yang menyeberang jalan raya harus mengikuti ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

¨       Sudut Penyeberangan
a)    Penyeberangan harus diusahakan sejauh mungkin membentuk sudut 900 dengan as jalan;
b)    Apabila tidak memungkinkan, diusahakan dengan sudut mnimal 450 sehingga lintasan kabel relatif pendek.
¨       Tinggi rute diatas jalan raya
Tinggi rute kabel udara dari permukaan jalan raya (as jalan) minimal 6 (enam) meter serta memperhatikan ketentuan perda setempat
¨       Cara Pemasangan
a)    Kabel udara yang menyeberang diatas jalan raya tidak boleh ada sambungan;
b)    Pemasangan pada tiang dengan cara ditambat;
c)    Tiang tempat penambatan kabel udara yang menyeberang jalan raya sedapat mungkin dilengkapi dengan temberang.

2.1.6.2.    Penyeberangan di atas sungai
a)    Sudut penyeberangan sama dengan ketentuan penyeberangan diatas jalan raya (900);
b)    Tinggi rute diatas sungai minimal 6 (enam) meter dari permukaan sungai pada saat pasang;
c)    Cara pemasangan sama dengan ketentuan penyeberangan di atas jalan raya;
d)    Dalam melaksanakan pekerjaan harus ada kordinasi dnegan instansi terkait

2.1.6.3.    Penyeberangan diaas jalan kereta api
a)    Sudut penyeberangan sama dengan ketentuan penyeberangan diatas jalan raya / sungai (900)
b)    Tinggi rute di atas sungai minimal 7,5 meter
c)    Cara pemasangan sama dengan ketentuan penyeberangan di atas jalan raya / sungai.
d)    Dalam melaksanakan pekerjaan harus ada koordinasi dengan pihak PT. KERETA API INDONESIA (PT. K.A.I.)





Gambar  2.28 : 
Penyeberangan Rute Kabel diatas Jalan Kereta Api

Tabel No. 2.2 : Perselisihan Rute KU dengan aluran Listrik/PLN
Ukuran dalam meter (m)
TEGANGAN
LISTRIK
SUDUT
I
MAKS
hp
MIN
ht
MIN
S
MIN
KETERANGAN
Sampai–650 V
650 V–11 kV
11 kV–66 kV
66 kV–132 kV
132 kV–220 kV
-
450-900
450-900
450-900
450-900
-
L/4
L/4
L/4
L/4
2,5
3,6
3,6
3,6
3,6
2,5
3,6
3,9
4,6
6,0
0,6
1,2
2,1
3,0
3,6
L=  Panjang gawang
      saluran listrik
I =     Bagian jarak dari panjang gawang saluran listrik
hp=Jarak antara tiang
       listrik dengan saluran
       telepon
ht=Jarak antara tiang
      telepon dengan
       saluran listrik
S= Jarakvertikal antara saluran listrik
    dengan saluran telepon


2.1.6.4.    Persilangan /sejajar dengan saluran listrik
Persilangan :
            Ketentuan mengenai persilangan rute kabel udara dengan saluran listrik (PLN) dapat dilihat pada tabel 2.2.
Sejajar :
Ketentuan mengenai persilangan rute kabel udara dengan saluran listrik (PLN) dapat dilihat pada tabel 2.3

Gambar 2.29 :

Persilangan Kabel Udara dengan Saluran Listri/PLN

Gambar  2.30  :
Kabel Udara Sejajar dengan Saluran Listrik/PLN





Tabel No. 2.3 : Rute KU sejajar dengan aluran Listrik/PLN
Ukuran dalam meter (m)
TEGANGAN
LISTRIK
Hp
MIN
Ht
MIN
S
MIN
Sampai – 650 V
650 V – 11 kV
11 kV – 66 kV
66 kV – 132 kV
132 kV – 220 kV
1,2
3,6
3,6
3,6
3,6
2,5
3,6
3,9
4,6
6,0
0,6
1,2
2,1
3,0
3,6
Keterangan : Kabel Saluran Induk 1,20 m


2.2.        Instalasi Saluran Penanggal (Drop Wire)

      Saluran Penanggal adalah bagian dari jaringan kabel lokal yang dipasang mulai dari Kotak Pembagi atau Distribustion Point (DP) sampai ke Kantor Terminal Batas (KTB) pada rumah pelanggan.
      Untuk instalasi / pemasangan saluran penanggal, selain dropwire dan tian, diperlukan material dan peralatan / perkakas kerja.

2.2.1.    Perkakas

a)    Obeng, perlu disediakan berbagai ukuran;
b)    Kniptang;
c)    Kombinasi tang;
d)    Sabuk Pengaman
e)    Helm Pengaman;
f)     Tangga

2.2.2.    Material

      Untuk menambatkan saluran penanggal pada tumpuan diperlukan material sebagai penggantung maupun pengikat saluran. Adapun material tersebut adalah sebagai berikut :

2.2.2.1.Drop Wire
      Drop wire adalah saluran berupakabel dengankapasitas 1x2 atau 2x2 berdiameter 0,6 / 0,8 / 1 / 1,2 mm.
Ada 2 jenis drop wire yaitu :

2.2.2.1.1.    Drop wire dengan penggantung

Terdiri dari :
a)    Dengan penggantung tunggal disebut juga Trifoil (STEL-K-004)
b)    Dengan penganutng ganda (STEL-K-0013)
2.2.2.1.2.    Drop wire tanpa penggantung / bearer (STEL K 005)
1. Kawat penggantung (baja galvanis Ø 12)
2. pvc Shelth
3. Urat tembaga Ø 0,6 mm)

 
1
2

3
 

Gambar  2.31 : Dropwire dengan kawat penggantung tunggal
1. Isolasi (Polyetheline)
2. Kawa penguat (baja)
3. Kawat penghantar (tembaga)

 
1
2

3

 




Gambar  2.32  : Drop Wire dengan penguat Ganda
                                                         
1


2


 
1. Urat bros Ø 1,2 mm
2. PVC shelth

 
                                                                                 

Gambar 2.33 : Drop Wire Tanpa Kawat Penggantung (Self Supporting)

2.2.2.2.Drop Wire Clamp

      Dropwire clamp adalah material untuk mengikat dropwire / kawat penggantung pada polestrap di tiang penambatan.
      Adapun dropwire yang digunakan adalah :
a.    Dropwire Clamp model Swedia / Erricsson;
b.    Dropwire Clamp model Japan;
c.    Dropwire Clamp model Spin. Selain menggunakan dropwire clamp, dapat juga digunakan selongsong press. Contoh Dropwire Clamp dan Selongsong Press
Gambar  2.34  :  Dropwire Clamp Model Erricsson
Gambar 2.35. Dropwire Clamp Model Japan

Gambar  2.36  :  Dropwire Clamp Model Spiral
Gambar  2.37  :  Selongsong Press

2.2.2.3.Polestrap
     
      Polestrap adalah material untuk menambatkan drop wire clamp pada tiang KP dan tiang antara. Pole strap mempunyai bermacam-macam bentuk sesuai kebutuhan.
            Bentuk dan macam-macam pole strap dapat dilihat pada gambar berikut ini :
Gambar 2.38 : Pole Strap Biasa
Gambar 2.39  :Pole Strap With Halfround Welded Loop
Gambar 2.40  : Polestrap dengan Haak
Gambar 2.41  : Polestrap dengan
                        Cincin


2.2.2.4.Split stopper
                 
                  Split Stopper adalah material yang digunakan hanya pada dropwire dengan kawat penggantung, untuk mencegah terjadinya rembetan tersobeknya dropwire dari kawat penggantung.
                  Split stopper dapat dibuat dari PE dengan penjepit dari logam atau dapat juga dibuat dari sabuk platik kecil.
Gambar 2.42  :  Split Stopper dengan penjepit
Gambar 2.43  :  Split Stopper
                  dengan Sabuk Plastik

2.2.2.5.Drop wire ring guide
     
      Drop wire ring guide adalah material untuk membendel alur drop wire yang keluar dari KP atas tiang menuju kerumah pelanggan.

2.2.2.6.Pipe guide
     
      Pipe guide adalah material / pipa PVC yang fungsinya sama dengan dorp wire guide ring.
2.2.3.    Pemasangan saluran penanggal atas tanah
     
      Pada umumnya bentuk konstruksi saluran penanggal atas tanah ada 2 (dua) macam yaitu :
a.    Saluran Penanggal Langsung (tanpa tiang pembantu)
b.    Saluran Penanggal Tidak Langsung (dengan tiang pembantu)
Gambar 2.44 : Saluran Penanggal Langsung
Gambar 2.45 : Saluran Penanggal dengan tiang pembantu

2.2.3.1.Pemasangan pole strap
     
      Pole strap untuk tambatan pada tiang KP atau tiang antara dipasang pada jarak 10 cm dari ujung atas tiang dengan tujuan :
a)    Untuk memberikan pandnagan yang baik
b)    Dari segi teknis dan kemanan memungkinkan dipenuhinya persyaratan ketinggian minimal pemasangan drop wire yaitu :
1) Di atas jalan kecil / halaman rumah minimal 3,5 meter
2)  Di atas jalan kelas 3 (tiga) minimal 4 meter

2.2.3.2.Pemasangan drop wire clamp

Gambar 2.46 : Cara mengikat  bearer pada drop wire clamp

Gambar 2.47 : Cara mengikat bearer dengan selongsong press

2.2.3.3.Pemasangan strip stopper

Cara pemasangan split stopper sedemikian rupa sehingga mampu mencegah terjadinya rembetan sobekan antara kawat penghantar dan kawat penggantung drop wire
Gambar  2.48 : Cara memasang split stopper

2.2.3.4.Penambatan drop wire
      Dalam pemasangan saluran penanggal yang menggunakan kawat penggantung, hal yang perlu diperhatikan adalah waktu memisahkan kawat penggantng dari penghantarnya harus hati-hati agar isolasi tidak terkelupas. Penambatan dapat menggunakan dropwire clamp model Japan atau dengan selongsong press.
      Sedangkan pemasangan drop wire tanpa kawat penggantung dengan cara mengikatkan pada drop wire clamp, dapat juga dengan mengikatkan langsung pada pole strap half round weldedloop atau pada haak dengan menggunakan model Erricsson atau dropwire clamp spiral.
      Perlu diingat pada waktu melepaskan dropwire dari gulungan, pada tiap 3-5 lingkaran gulungan dropwire harus diputar untuk mencegah terjadinya klink.
      Pada waktu penambatan dropwire di rumah pelanggan perlu dipilih dengan cermat dan atas persetujuan pelanggan.
Dalam penambatan saluran penanggal ada beberapa macam cara disesuaikan dengan kebutuhanya.

2.2.3.4.1.    Penambatan drop wire pada iang KP (Tambatan awal)


1. Tiang
2. Polestrap with halfround
3. Dropwire clamp japan
4. guide ring
5. Split stopper
 

Gambar 2.49 : Penambatan drop wire dengan Drop Wire Clamp Japan
1.    Tiang
2.    Polestrawitp harlfround
3.    Dropwire clamp erricsson
4.    Guided ring
 

Gambar 2.50 : Penambatan drop wire dengan Drop Wire Clamp Erricsson
1. Tiang
2. Polestrap with halfround
3. Dropwire clamp spiral
4. Guide ring
 


Gambar 2.51 : Penambatan drop wire dengan Drop Wire Clamp Spiral
1. Tiang
2. Polestrap with halfround
3. Selongsong press
4. Guided ring
5. Split stopper
 


Gambar 2.52 : Penambatan drop
      wire dengan selongsong press

Penambatan dropwire dengan menggunakan Drop Wire Clamp model Spiral dikerjakan sebagai berikut :
a)    Drop Wire Clamp model spiral dipasang lebih dulu pada pole strap, kemudian dililitkan pada drop wire.
b)    Biasanya Drop Wire Clamp model spiral dipakai untuk 2 sambungan pelanggan sekaligus
c)    Bila hanya digunakan untuk satu sambungan pelanggan saja, maka salah satu ujungnya harus diputus supaya alur spiralnya dapat memuat drop wire. Kalau dipaksakan drop wire akan lecet /sobek hingga dapat menimbulkan gangguan/ kerusakan
Penambatan dengan menggunakan selongsong press sebaiknya dipakai pole strap yang berbentuk haak, karena jerat pada kawat penggantung dapat dibuat dibawah (tidak harus diatas tiang) berarti pelaksanaannya menjadi lebih mudah (gambar no. 2.20)

Gambar 2.53 :   Penambatan drop wire dengan selongsong press dan pole strap bentuk haak
Disamping cara penambatan drop wire dengan menggunakan drop wire clamp dan selongsong press, penambatan saluran penanggal dapat juga dilakukan dengan sistem lilitan yaitu dimana tiap ujung bearer dibuat 5 sampai 7 lilitan seperti gambar no. 2.21 dibawah ini
Gambar 2.54 : Penambatan drop wire dengan sistem lilitan

2.2.3.4.2.    Penambatan drop wire pada tiang antara /ditengah rute(tambahan antara)

      Cara penambatan dropwire ditengah rute saluran  penanggal (tambatan antara) sama seperti cara penambatan pada kedua sisi tiang
a)    Penambatan dropwire dengan bearer dengan selongsong pilin/press.
Gambar 2.55 : Tambatan antara
            dengan selongsong press
b)    Penambatan dropwire dengan bearer dengan dropwire clamp japan
Gambar 2.56 : Tambatan antara dengan DW Clamp Japan
c)    Penambatan dropwire tanpa bearer dengan dropwire clamp erricsson
Gambar 2.57 : Tambatan antara dengan DW Clamp Erricsson
d)    Penambatan dropwire tanpa bearer dengan dropwire clamp spiral


Gambar 2.58 : Tambatan antara dengan DW Clamp Wire

2.2.3.4.3.    Penambatan drop wire di rumah pelanggan (tambatan akhir)

      Pemilihan titik penambatan
Posisi penambatan drop wire dirumah pelanggan perlu dipilih secara cermat dan disetujui oleh calon pelanggan dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
a)    Titik  tambat sedapat mungkin dekat dengan pesawat telepon
b)    Titik tambat diusahakan setinggi mungkin sehingga aman dari jangakaun manusia
c)    Titik tambat diusahakan sejauh mungkin dari saluran intalasi / perangkat lain seperti saluran PLN, saluran/feeder antena dan sebagainya.
d)    Sedapat mungkin tidak mengurangi keindahan, bahkan kalau bisa menyatu dengan estetika lokasi yang ada
e)    Sedapat mungkin dipilih pada tempat yang kuat (tembok, lisplank) agar mampu menahan daya tarik drop wire untuk jangka waktu lama
Setelah titik penambatan ditentukan, kemudian dilakukan penambatan dop wire sebagai berikut :
a)    Material yang diperlukan
b)    Pada titik penambatan yang dipilih dipasang clamp hook.
c)    Tambatkan drop wire pada clamp hook dengan menggunakan drop wire clamp
d)    Pemasangan drop wire dilanjutkan pada tembok/dinding rumah sampai terminasi pada Kotak Terminal Batas (KTB).Pelaksanaan penambatan :
Ø  Apabila menggunakan drop wire dengan kawat penggantung (bearer),
Ø  maka terlebih dulu kawat penggantung dilepaskan atau dipisahkan dan ditambatkan pada clamp hook.
e)    Apabila menggunakan drop wire tanpa kawat pengantung (bearer), maka pemasangan dan terminasi dapat langsung dilaksanakan.
f)     Untuk pemasangan drop wire pad dinding/tembok dapat digunakan klem kabel dengan jarak pemasnagan sebagai berikut :
      Alur vertial= 50 cm
      Alur horisontal= 25 cm
      Pada tikungan= 10 cm
Pemasangan Kotak Terminal Batas (KTB) sebaiknya dilakukan diluar rumah dan penempatanya harus terlindung dari air hujan dan panas

Gambar 2.59 : Pemasangan Clamp Hook untuk tambatan drop wire pada rumah pelanggan


2.2.3.5.Penarikan drop wire
a)    Tanpa tiang perantara / tiang pembantu.Bila tidak diperlukan adanya tiang pembantu, Drop Wire direntangkan langsung antara tiang KP dengan penambat/clamp hook dirumah pelanggan
b)    Dengan tiang perantara / tiang pembantu.Dilakukan dengan cara penambatan seperti terlihat pada gambar 2.22 s/d gambar 2.25
c)    Cara melepaskan Drop Wire dari gulungan.Tiap tiga sampai lima lingkaran, gulungan Drop Wire harus diputar balik untuk mencegah terjadinya klink. Menurut pengalaman klink akan terjadi pada setiap 7 (tujuh) meter.
d)    Cara merentangkan Drop Wire.
-       Drop wire yang sudah dilepas dari gulungan ditarik pelan-pelan kearah titik tambat dengan panjang sesuai kebutuhan. Salah satu ujungnya ditambatkan pada Drop Wire Clamp kemudian ditarik kencang dan ujung yang lain ditambatkan pada tiang berikutnya.
-       Bila Drop Wire harus direntangkan menyilang atau diantara Drop Wire yang sudah ada atau diatas saluran listrik, harus menggunakan alat bantu berupa galah yang berisolasi atau tangga double


2.2.3.6.Lentur drop wire
Tabel 2.4. Pengaturan lentur drop wire :

Beban
Lentur Drop Wire (d) pada beban dengan tekanan angin
Keterangan
Jarak Rentang (s)
A
B
C

15 meter
> 20 cm
> 30 cm
> 20 cm

20 meter

25 meter
> 70 cm

30 meter
> 50 cm
> 115 cm

35 meter
> 90 cm


40 meter
> 120 cm
> 30 cm



Gambar 2.60. Lentur drop wire


¨       Jarak rentang, berat kabel, tekanan angin dan air hujan yang menempel
¨       Faktor keamanan dari daya panggul (breaking tension) maksimum.Untuk mempermudah pelaksanaannya, dibawah ini disajikan tabel dari lentur Drop Wire yang diijinkan :

2.2.3.7.Saluran Drop wire atau melintasi arus kuat (power line)

            Rentangan drop Wire harus berada dibawah saluran arus kuat. Untuk mencegah terjadinya induksi arus kuat pada Drop Wire perlu dilakukan pemisahan antara Drop Wire dengan saluran arus kuat tersebut.




Pengukuran jarak pemisah antara Drop Wire dengan saluran arus kuat harus memenuhi ketentuan sebagaimana tertera pada tabel dibawah ini :

Tabel 2.5. Saluran melintas jaringan arus kuat tegangan rendah (ukuran dalam cm)
Posisi Drop Wire
Jenis saluran arus kuat tegangan rendah
Keterangan
Kawat telanjang
Kawat isolasi tegangan rendah
Kabel power

Sejajar
H ≥ 80
L ≥100
L ≥ 50

Menyilang
L ≥ 60
L ≥ 60
L ≥ 30

Tabel 2.6. Saluran melintas jaringan arus kuat tegangan tinggi(Ukuran dalam cm)
Posisi Drop Wire
Jenis saluran arus kuat tegangan tinggi
Keterangan
Kawat telanjang
Kawat isolasi tegangan rendah
Kabel power

Sejajar
H ≥ 140
H ≥ 140
L ≥100
L ≥ 60

Menyilang
L ≥ 120
V ≥ 120
L ≥ 60
L ≥ 40



2.3.        Keselamatan Kerja
2.3.1.    Umum

Untuk menciptkan situasi kerja yang aman, petugas teknik jaringan harus benar-benar memahami:
a)    Langkah-langkah atau aturan-aturan keselamatan kerja yang baik dan benar
b)    Menghindarkan hal-hal yang dapat menyebabkan kecelakaan atau membahayakan
c)    Bekerja tidak terburu-buru ,teliti dan hati-hati
               Adapun sebab kecelakaan itu sendiri ,dapat dikelompokkan kedalam beberapa kelompok utama yaitu :
a)            Peralatan yang tidak atau kurang aman (misalnya yang tidak berisolasi ,sabuk            pengaman yang kuncinya hilang dsb)
b)            Kondisi lingkungan yang tidak aman (misalnya penerangan yang tidak cukup ,ventilasi kurang ,pakaian kerja yang tidak aman ,dll )
c)            Manusianya sendiri yang tidak aman (ceroboh )misalnya sikap yang tidak wajar , pengetahuan dan keterampilan kurang dll.

2.3.2.    Keselamatan kerja

         Setelah kita ketahui tentang sebab-sebab kecelakaan ,maka perlu diketahui cara-cara menghindarinya , yaitu :
2.3.2.1.    Sikap petugas
a)    Petugas agar bersikap wajar , berkesadaran penuh , tidak gugup , dan mengerti maksud perintah dalam mengoperasikan peralatan.
b)    Petunjuk operasi setiap peralatan harus dipahami dan dimengerti  sungguh-sunguh oleh setiap petugas.
c)    Mematuhi prosedur kerja yang telah ditentukan

2.3.2.2.    Perkakas atau alat kerja
a)    Pergunakan alat kerja yang tepat untuk setiap pekerjaan
b)    Pastikan bahwa perkakas yang akan digunakan dalam kondisi   baik dan  tidak ada kekurangan kelengkapannya
c)    Pergunakan alat pelindung diri bagi pekerjaan-pekerjaan yang    berbahaya  antara lain : Sarung tangan, sepatu pengaman, sabuk pengaman, topi pengaman atau helm kacamata pengaman (testprator) dll.

2.3.2.3.    Lingkungan
a)    Setiap lingkungan kerja harus diberi penerangan yang cukup terdiri dari 2   macam, yaitu :
Ø  Penerangan khusus jika diperlukan penerangan tambahan bagi bidang     pekerjaan tertentu dan boleh bersifat sementara
Ø  Penerangan umum yang berlaku untuk seluruh ruangan
b)    Peliharalah tingkat kebisingan lingkungan kerja misalnya ruang  diesel, ruang penggergajian, dll, para pekerja harus  menggunakan pelindung  telinga
c)    Jika bekerja di tepi jalan raya, maka harus dipasang rambu-rambu yang  jelas baik siang maupun malam hari

2.3.2.4.    Usaha preventif mencegah kecelakaan kerja
a)    Ventilasi
Ruangan harus cukup ventilasi untuk menciptakan sirkulasi udara yang sehat dan membuat ruangan segar dan nyaman.
b)    Penggunaan perlengkapan pengaman
contoh: sabuk pengaman , sarung tangan , helm , dsb.
c)    Pemeliharaan preventif berkala terhadap perkakas kerja
Ø  Mengganti/memasang tang , obeng yang hilang /rusak isolasinya
Ø  Melumasi bagian –bagian peralatan  yang memerlukan pelumasan
Ø  Mengecek/memperbaiki klep/kran elpiji/kompor minyak
d)    Memasang tanda-tanda peringatan yang jelas Tanda dilarang merokok , tegangan tinggi , mudah terbakar dll.
e)    Persediaan fasilitas pengaman
      Pemadam kebakaran  ,     Perlengkapan p3k dsb.
2.3.3.    Prosedur Keselamatan kerja
2.3.3.1.    Bekerja diatas tiang.
a)    Naik tiang dengan menggunakan tangga
b)    Tangga bagian bawah dan atas diikatkan pada tiang
c)    Setelah diatas tiang harus mengikatkan sabuk pengaman pada tiang
d)    Perkakas harus dilengkapi dengan bahan isolasi
e)    Sebelum naik tiang cek dahulu apakah tiang cukup kuat untuk  dinaiki.

2.3.3.2.    Bekerja di tempat instalasi listrik
a)    Gunakan perlengkapan kerja yang berisolasi , sepatu ,  sarung tangan karet dsb.
b)    Jika memungkinkan matikan dahulu saklar utama kemudian baru  mulai bekerja.
c)    Jangan membawa benda-benda dari logam didalam kantung , sehingga mudah jatuh.
d)    Perhatikan tanda-tanda peringatan yang ada

2.3.3.3.    Bekerja di tempat yang panas
a)    Jangan memakai pakaian yangketat
b)    Pakailah topi lebar pelindung matahari
c)    Cukup minum
d)    Jika tidak mengikuti aturan diatas , kemungkinan yang terjadi :
e)    Kehabisan tenaga
Pusing ,mual ,muka pucat bahkan bisa pingsan

2.3.3.4.    Cara mengangkat,menarik dan mendorong beban
2.3.3.4.1.Mendorong
a)    Letakkan kaki seimbang dengan satu kaki berada didepan
b)    Tumpuan berat badan pada kaki yang depan
c)    Punggung harus selalu lurus
d)    Kepala tegak menghadap kedepan , jangan kekiri kekanan , keatas atau kebawah
e)    Kaki yang di belakang memberi tenaga dorong dibantu dengan gaya berat  badan kedepan

2.3.3.4.2.Menarik
a)    Punggung harus lurus
b)    Kaki depan , dengkul memberi tenaga tarik, sedangkan kaki belakng menjaga   keseimbangan

2.3.3.4.3.Mengangkat
a)    Posisi badan jongkok dengan kedua kaki renggang, satu kaki agak ke depan
b)    Punggung harus lurus
c)    Tenaga angkat dari otot-otot kaki dan persendian kaki begian bawah juga dengkul

2.4.        Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan
2.4.1.    Umum
Pada saat kita sedang bekerja, meskipun kita sudah memetuhi peraturan keselamatan kerja, tidak mustahil pula akan terjadi kecelakaan kerja baik yang ringan ataupun berat, misalnya:
a)    Sengatan listrik saat bekerja pada saluran kawat
b)    Kejatuhan benda keras dari atas, dsb .Untuk itu, kita harus mengetahui beberapa hal penting cara mengatasinya guna menghindarkan akibat yang fatal bagi si korban

2.4.2.    Pertolongan pertama pada korban yang terkena aliran listrik
2.4.2.1.    Di atas lantai atau tanah
Penolong harus diperlengkapi dengan bahan-bahan berisolasi, misalnya: sarumg tangan dari karet/plastik atau dibalut dengan kain yang kering. Kaki beralaskan bahan dari karet, karpet atau kayu, keset yang kering. Bisa menggunakan tongkat yang kering. Langkah pertolongan:
a)    Putuskan/jauhkan kawat/kabel dari si korban dengan kapak ata tali dsb
b)    Tarik si korban dengan memegang bajunya untuk membebaskan si korban dari kawat/kabel hidup, atau bila kawat/kabel sumber listrik diketahui, segeralah mematikan saklar utama atau mencabutnya dari stop kontak. 
            Jika strum kuat dan korban pingsan
      Strum kuat akan mengakibatkan nafas dan denyut jantung berhenti, untuk itu kia harus sesegera mungkin memberikan pertolongan. waktu setelah kena strum sampai kira-kira 4 menit kemudian  adalh angat medekati kematian seseorang, maka pertolongan darura yang harus diberikan nafas buatan yang bisa dilakukan dari mulut ke mulut atau dari mulut ke hidung.
Cara memberikan nafas buatan:
a)    terlentangkan korban dan bersihkan mulutnya
b)    angkat dan luruskan leher atau tengkuknya (menengadahkan kepala) agar didapat jalan nafas udara segar
c)    hembuskan nafas bersih ke mulut atau hidung si korban Usahakan selanjutnya adalah segera membawa korban ke rumah sakit terdekat sementara usaha darurat terus dilakukan sampai korban bernafas.

      Cara memberi nafas buatan:
Dari mulut ke hidung
a)    posisi kepala korban tengadah
b)    ambil nafas dalam-dalam kemudian hembuskan ke lubang hidung korban
c)    pada saat tersebut mulut korban harus ditutup dengan tangan kita agar udara benar-benar masuk
d)    ulangi hal tersebut sampai dia mulai bernafas
e)    Jika belum juga ada tanda-tanda bisa bernafas, usahakan memberi nafas buatan agak cepat

Dari mulut ke mulut.
a)    posisi badan tengadah
b)    pijit hidung si korban
c)    buka mulutnya, kemudian hembuskan udaradari mulut kita ke mulut korban
d)    Meneliti apakah korban bisa bernafas atau belum
e)    perhatikan dada mulai bernafas atau belum setelah kita memberi hembusan
f)     bila masih tersendat lakukan lagi nafas buatan 4 kali agak cepat dan dalam
Periksa denyut jantung bila dengan nafas buatan tidak ada tanda-tanda bernafas, pada lekuk leher dan pada nadi pergelangan tangan.
Periksa juga biji-biji mata melebar atau tidak mengedip bila disinari langsung

2.4.2.2.    Di atas tiang
a)    penolong segera naik tiang dengan sabuk pengaman dan membawa tali penolong
b)    putuskan kawat hidup dari korban
c)    beri segera nafas buatan 4-6 kali dengan hembusan kuat
d)    persiapkan penurunan korban dengan tali
      Tali diikatkan pada sabuk pengaman korban dan dadanya agar korban tetap tegak
2.4.3.    Pertolongan pertama pada luka
Luka tidak boleh dipegang, jangan membasuh luka dengan air meskipun luka tampak kotor. Tutuplah segera luka dengan pembalut luka yantg steril kering. Jangan mempergunakan bahan kain yang menutup luka misalnya sapu tangan, bahan bekas. Apabila bahan-bahan yang steril tidak tersedia lebih baik dibiarkan terbuka.
Pembalut luka hanya dapat menahan luka-luka yang dangkal. Pada waktu membalut luka misalnya pada anggota badan, usahakan anggota badan yang terluka diangkat ke atas. Apabila luka sangat dalam dan pendarahan banyak diusahakan pencegahan pendarahan seperti pembahasan berikut ini.

2.4.4.    Macam macam luka
2.4.4.1.    Pendarahan arteri
               Pendarahan arteri dapat diketahui apabila darah keluar memancar dari luka, cobalah menghentikan darah dengan membalut luka dengan pembalut streril. Apabila tidak berhasil tekuklah sampai batas maksimum sendi sendi tepat di atas luka (misalnya sendi paha, lutut, sikut) dan pada posisi tersebut ikat dengan pita kain atau sabuk, apabial masih tidak berhasil pasang torniket pada lengan atas atau paha. Jika torniket tidak ada blokir dengan menekan arteri tersebut dengan kedua ibu jari dilekatkan paralel pada tempat tersebut.
2.4.4.2.    Luka pada mata
               Balut kedua mata meskipun yang satu tidak luka, dengan plester apabila luka karena bahan kimia, misalnya: kena soda, asam keras, atau amoniak cucilah mata dengan air bersih. Pergunakan ibu jari dan telunjuk untuk membuka mata selebar-lebarnya
2.4.4.3.    Keracunan gas
Usahan udara yang bersih, penderita dibawa ke luar atau jendela dibuka. Ada dua macam gas yang berbahaya:
a)    gas yang tidak berbahaya untuk paru-paru misalnya gas yang meracuni darah dan syaraf, narkotika, karbon monoksida, asam sianida, ether, chloroporm, uap bensin atau bensol. Buka baju penderita, jangan sekali-kali memberi minum penderita yang pingsan. Gosoklah tangan dan kaki penderita dengan tangan, apabila pernafasannya berhenti usahakan pernafasan buatan, kalau dapat dengan alat penghisap oksigen.
b)    Gas yang merusak paru-paru seperti chlor phosgen, gas nitro, sulfur dioksida, dsb. Buka baju penderita, kemudian jauhkan penderita dari baju yang sudah penuh dengan gas. Usahakan pasien tenang dan berbaring terlentang, jangan diperbolehkan untuk berjalan. Apabila sadar berilah air kopi atau air panas, dalam hal ini pernafasan buatan dilarang.

2.4.5.    Prosedur keselamatan kerja
2.4.5.1.    Bekerja di jalan
2.4.5.1.1.Perijinan
Untuk bekerja di jalan, harus ada surat ijin dari polisi/pihak berwenang, selain itu patuhi aturan-aturan yang ditetapkan

2.4.5.1.2.Kewajiban penanggung jawab lapangan
Hal-hal yang harus dilakukan oleh petugas lapangan “
a)    Sebelum mulai bekerja, periksa lokasi kerja dan kondisi lalu lintas. Setelah itu rencanakan dan koordinasikan pekerjaan instalasi dengan menggunakan perlengkapan keselamatan kerja untuk mencegah kecelakaan lalu lintas dan menjaga keselamatan pejalan kaki.
b)    Ambil tindakan untuk mencegah masuknya pihak ke 3 ke lokasi kerja, kemudian periksa fasilitas keselamatan kerja secara periodic
c)    Tempatkan orang-orang untuk mengatur lalu lintas sehingga arus lalu lintas tidak terganggu




2.4.5.1.3.Penempatan material dan peralatan di lokasi kerja
Hal-hal yang harus dipertimbangkan untuk menempatkan material dan peralatan di jalan :
a)    Atur semua material dan peralatan agar tidak berserakan kemudian pasang alat keselamatan kerja
b)    Pada malam hari, nyalakan lampu pengaman agar pihak ketiga dapat melihat dengan jelas

2.4.5.1.4.Cara parkir
Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam memarkir kendaraan :
a)    Lindungi para pekerja dari kecelakaan lalu lintas. Kendaraan harus selalu diparkir didaerah yang berlawanan dengan arus lalu lintas
b)    Pasang rem tangan dan ganjal ban didepan dan belakang
c)    Pasang gigi rendah atau gigi mundur sesuai dengan kemiringan lokasi

2.4.5.1.5.Jalur untuk pejalan kaki
Untuk menjaga keselamatan dan memberi ruang untuk pejalan kaki, beri jarak 1,5m pada lebar jalan. Jika sangat terpaksa sediakan jarak minimum 0,75 m

2.4.5.1.6.Jalur untuk kendaraan umum
Dijalan yang sempit pertimbangkan hal-hal berikut :
a)    dijalan satu arah, sisakan lebar jalan 3 m atau lebih
b)    dijalan dua arah, sisakan lebar jalan 5,5 m atau lebih

2.4.5.1.7.Pemasangan rambu rambu pengaman
Tujuan
Saat melakukan pekerjaan di jalan, penting untuk memberitahu sopir dan pejalan kaki bahwa sedang ada konstruksi. Fasilitas keselamatan kerja tidak hanya berfungsi sebagai informasi bagi sopir dan pejalan kaki akan adanya konstruksi tapi agar lalu lintas dan pekerjaan berjalan lancar. Fasilitas keselamatan kerja dipasang terutama untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
                 Yang harus diperhatikan saat memasang keselamatan kerja :
a)    Instalasi fasilitas keselamatan kerja harus dilakukan dengan benar untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Untuk itu fasilitas keselamatan kerja tidak boleh dicabut atau diganti dengan alasan karena waktu konstruksi yang pendek atau resiko kecelakaan yang rendah.
b)    Papan peringatan dan safety cones harus berukuran besar dan menggunakan lampu
c)    Karena waktu memasang dan mencabut fasilitas keselamatan kerja sangat berbahaya, harus ada orang yang mengatur lalu lintas, lakukan hal itu secepat mungkin.
d)    Fasilitas keselamatan kerja dipasang mulai dari arah datangnya kendaraan. Sedangkan pencabutan dilakukan dari arah perginya kendaraan
e)    Setelah fasilitas keselamatan kerja dipasang, pastikan fasilitas-fasilitas tersebut dapat berfungsi dengan baik


Text Box:

Gambar.. 2.61. Penempatan kendaraan di lokasi proyek

 
 













Gambar.. 2.62. Urutan Pemasangan fasilitas keselamatan kerja

 

 

 

 
 







Gambar.. 2.63. Urutan pencabutan fasilitas keselamatan kerja

\

Jenis-Jenis Rambu Pengaman
a)    Papan peringatan (rambu pengaman) dipasang diseberang jalan agar kendaraan-kendaraan tidak memasuki lokasi konstruksi

Gambar 2.64 Contoh papan peringatan


b)    Tujuan pemasangan papan peringatan
·         Papan peringatan dipasang agar pengemudi dan pejalan kaki bisa melihat lokasi konstruksi didepan mereka
·         Papan peringatan dapat dipasang pada jarak 50 – 1000 m dari lokasi konstruksi

Gambar 2.65. Penempatan papa peringan



Keselamtan kerja Pekerjaan Instalasi Kabel Atas Tanah
a)    Untuk menanam tiang , periksa kondisi jaringan bawah tanah
b)    Periksa kondisi tiang sebelum naik keatas
c)    Kenakan sabuk pengaman , helm, sarung tangan dan lain sebagainya
d)    Gunakan alat bantu (tangga atau sky walker)
e)    Hentikan kegiatan saat hujan turun yang disertai dengan petir

Peralatan Keselamatan kerja
Jenis dan fungsi peralatan kerja (minimal yang harus dimiliki)
a.    Rambu-rambu pengaman
      Untuk memberikan informasi kepada masyarakat umum disekitar lokasi bahwa ditempat tersebut sedang dilakukan suatu kegiatan
b.    Helm Pengaman
      Fungsi utama dari helm adalah untuk menghindari kepala dari benturan mekanis
c.    Sabuk Pengaman
      Berfungsi untuk melindungi pekerja dari kemungkinan jatuh dari tempat yang tinggi
d.    Sarung Tangan
      Berfungsi untuk melindungi tangan dari gesekan benda-benda tajam juga pelindung terhadap sengatan listrik
e.    Sepatu Lapangan
      Berfungsi selain untuk melindungi kaki dari benturan mekanis juga berfungsi sebagai pelindung terhadap sengatan listrik
f.     Alat Pendeteksi Gas (Gas Detector)
      Untuk mengetahui kandungan udara di dalam manhole
g.    Kipas Angin Ventilasi Manhole (Ventilator)
      Fungsi utamanya untuk menghilangkan gas-gas berbahaya serta mencukupi kandungan oksigen
h.    Masker
      Digunakan pekerja untuk melakukan pertolongan bagi korban kecelakaan yang diakibatkan keracunan gas-gas berbahaya
i.      Tangga
      Berfungsi untuk membantu pekerja ditempat yang tinggi )diatas tiang) yang tidak terjangkau oleh tangan pekerja pada posisi berdiri
j.      Tali
      Untuk mengikat peralatan saat menaikkan atau menurunkan peralatan diatas tiang atau di dalam manhole
k.    Alat Penerangan
      Berfungsi untuk membantu pekerja saat melakukan kegiatan ditempat yang gelap
l.      Tenda
      Melindungi pekera dari panas dan hujan
m.   Handy Talky
      Berfungsi untuk komunikasi antar petugas yang tempatnya salaing berjauhan
n.    Head Cop
      Berfungsi untuk melindungi telinga dari kebisingan
o.    Baju Lapangan
      Untuk melindungi tubuh dari pengaruh luar
p.    Pompa Air
      Untuk mengeluarkan air di dalam manhole dan sebagainya






2.5.        Rangkuman
1.    keuntungan dibanding konstruksi jaringan bawah tanah, diantaranya :
a)    Biaya pemasangan relatif murah;
b)    Pemeliharaan dan penanggulangan gangguan lebih mudah dan cepat;
c)    Sesuai untuk kabel kapasitas kecil
2.    Perkakas instalasi Kabel udara
a)    Rol kabel udara
b)    Tali Penarik kabel udara
c)    Alat anti pulir
d)    Alat penarik kabel
3.    Material yang digunakan untuk instalasi kabel udara
a)    Tiang telepon
b)    Sekang ulir
c)    Baut 5/8
d)    Isolasi PVC
e)    Besi sekang.pole streep
4.    Macam tiang tumpuan kabel udara yang digunakan :
a)    Tiang besi
b)    Tiang kayu
c)    Tiang beton
5.    Macam temberang:
a)    Temberang Tarik
b)    Temberang sokong
c)    Temberang labrang
6.    Macam penambatan kabel udara :
a)    Cara gantung
b)    Cara tambat
c)    Cara tambat akhir/awal
7.    Urutan penarikan kabel udara :
a)    Persiapan penarikan
·         Pemasangan penjepit kabel udara
·         Pemasangan rol kabel udara
·         Pengupasan kabel penggantung (bearer)
·         Pemasangan alat anti pulir
·         Pemasangan tali penarik
b)    Penguluran kabel udara
c)    Menegangkan / mengencangkan kabel
d)    Membuat tambatan akhir
e)    Pemuliran
8.    Penyeberangan rute kabel udara,dimungkinkan antara lain :
a)    Penyeberangan di atas jalan raya
b)    Penyeberangan di atas sungai
c)    Penyeberangan diatas jalan kereta api
d)    Persilangan/sejajar dengan saluran listrik
9.    Perkakas instalasi drop wire antara lain :
a)    Obeng,perlu disediakan berbagai ukuran
b)    Knip tang
c)    Kombinasi tang
d)    Sabuk pengaman
e)    Helm pengaman
f)     tanggal
10.  Jenis jenis drop wire :
a)    Drop wire dengan penggantung.
b)    Drop wire tanpa penggantung
11.  Bentuk konstruksi saluran penanggal atas tanah ada 2 macam,yaitu :
a)    Saluran penanggal langsung
b)    Saluran penanggal tidak langsung
12.      Macam penambatan drop wire sesuai dengan kebutuhannya :
a)    Penambatan drop wire pada tiang KP
b)    Penambatan drop wire pada tiang antara/ditengah rute (tambahan antara)
c)    Penambatan drop wire di rumah pelanggan (tambat akhir)
13.      Pertimbangan yang dipakai dalam membuat aturan lentur drop wire antara lain :
a)    Jarak rentang,berat kabel,tekanan angin dan air hujan yang menempel
b)    Factor keamanan dari daya panggul.
14.      Dalam keselamatan kerja,pemahaman yang perlu dilakukan oleh petugas adalah :
a)    Langkah langkah atau aturan aturan keselamatan kerja yang baik dan benar
b)    Menghidnarkan hal hal yang dapat menyebabkan kecelakaan atau membahayakan
c)    Bekerja tidak terbutu buru ,teliti dan hati hati.
15.  Perkakas atau alat kerja sebelum digunakan sebaiknya :
a)    Pergunakan alat kerja yang tepat untuk setiap pekerjaan
b)    Pastikan bahwa perkakas yang akan digunakan dalam kondisi baik dan tidak ada kekurangan kelengkapannya
c)    Pergunakan alat pelindung diri bagi pekerjaan pekerjaan yang berbahaya.
16.  Macam nafas buatan :
a)    Dari mulut ke hidung
b)    Dari mulut ke mulut
17.  Macam macam luka :
a)    Pendarahan arteri
b)    Luka pada mata
c)    Keracunan gas
18.  Tujuan pemasangan papan peringatan adalah :
a)    Papan peringatan dipasang agar pengemudi dan pejalan kaki bias melihat lokasi konstruksi di depan meraka
b)    Papan peringatan dapat dipasang pada jarak 50 – 100 m dari lokasi konstruksi.
19.  Yang harus diperhatikan saat memasang keselamatan kerja :
a)    Instalasi fasilitas keselamatan kerja harus dilakukan dengan benar untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Untuk itu fasilitas keselamatan kerja tidak boleh dicabut atau diganti dengan alasan karena waktu konstruksi yang pendek atau resiko kecelakaan yang rendah.
b)    Papan peringatan dan safety cones harus berukuran besar dan menggunakan lampu
c)    Karena waktu memasang dan mencabut fasilitas keselamatan kerja sangat berbahaya, harus ada orang yang mengatur lalu lintas, lakukan hal itu secepat mungkin.Fasilitas keselamatan kerja dipasang mulai dari arah datangnya kendaraan. Sedangkan pencabutan dilakukan dari arah perginya kendaraan
d)    Setelah fasilitas keselamatan kerja dipasang, pastikan fasilitas-fasilitas tersebut dapat berfungsi dengan baik
19. tujuan pemasangan rambu rambu pengaman adalah : Saat melakukan pekerjaan di jalan, penting untuk memberitahu sopir dan pejalan kaki bahwa sedang ada konstruksi. Fasilitas keselamatan kerja tidak hanya berfungsi sebagai informasi bagi sopir dan pejalan kaki akan adanya konstruksi tapi agar lalu lintas dan pekerjaan berjalan lancar. Fasilitas keselamatan kerja dipasang terutama untuk mencegah terjadinya kecelakaan

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;