Kamis, 08 Desember 2011

INSTALASI ! ! kabel bawah tanah

4.1. Instalasi kabel tanah tanam langsung

Kabel tanah tanam langsung adalah semua jenis kabel yang konstruksinya dirancang khusus untuk dipasang dibawah permukaan tanah dan dalam pemasangannya ditanam secara langsung dibawah permukaan tanah (sesuai STEL-K-007)
4.1.1.    Cara Pemasangan Kabel Tanah Tanam Langsung
Di tepi jalan/trotoar
Kabel primer
Kedalaman galian alur kabel yang akan dilewati kabel primer ditentukan ± 80 cm atau sesuai peraturan PEMDA setempat (contoh Jakarta ± 130 cm);
a)    Lebar galian bagian atas alur kabel                                                        = ± 40 cm
b)    Lebar galian bagian bagiaw bawah alur kabel                                        = ± 30 cm

Gambar 4.1. Galian alur kabel primer


Kabel Sekunder
Kedalaman galian untuk kabel sekunder ditentukan ± 60 cm atau sesuai peraturan PEMDA setempat (Jakarta ± 110 cm).


Gambar 4.2. Galian alur kabel sekunder

Menyeberang Jalan
Kabel dimasukkan dalam pipa PVC/pralon dengan diameter 10 cm,  tebal 5,5 mm. Kedalaman galian = ± 100 cm atau sesuai peraturan PEMDA setempat (contoh : Jakarta = ± 130 cm).

Isi pipa (dalam satu pipa) adalah :
a)    Untuk kabel primer           : Dalam 1 pipa hanya diisi 1 buah kabel;
b)    Untuk kabel sekunder       : Dalam 1 pipa maks. diisi 3 buah kabel;
c)    Kabel primer dan kabel sekunder tidak boleh dimasukkan ke dalam satu pipa.
d)    Diberi pipa cadangan yang kosong yang jumlahnya disesuaikan dengan desain

.
Gambar 4.3 : Galian luir kabel menyebrang jalan (crossing)


Lubang sambung kabel
Ukurannya lubang galian tempat penyambung kabel ditentukan sebagai berikut :
a)    Panjang= (20 D + 100) cm
b)    Lebar= (20 D + 100) cm
c)    Kedalaman            = (t + 30) cm
Dimana :
D  = Diameter luar kabel.
T = kedalaman alur kabel(min = 60 cm).




Gambar 4.4 : Galian tempat penyambungan kabel


Menyeberang parit
Kabel dimasukkan ke dalam pipa pelindung besi galvanis dengan diameter dalam 4 (empat) inchi. 1 (satu) pipa pelindung hanya dapat diisi dengan 1 (satu) kabel primer atau maksimum 3 (tiga) kabel sekunder.
Kabel primer dan kabel sekunder tidak diperkenakan berada dalam satu pipa. Kemudian pipa pelindung dilindungi kawat berduri. Pipa pelindung yang belum terisi kabel harus di tutup dengan stopper pada kedua ujungnya

.

Gambar 4.5 : Alur kabel menyeberang parit


Menyeberang sungai
Menempel pada jembatan yang ada;
Pemasangannya harus seijin PEMDA atau PU setempat. Kabel dimasukan dalam pipa pelindung besi. Pipa pelindung bisa di lewatkan pada sisi atau bawah jembatan

.

Gambar 4.6 : Alur kabel menyeberang sungai


Pemasangan jembatan kabel;
Apabila cara pada butir diatas tidak diijinkan PEMDA atau PU setempat maka alternatife lain adalah dengan membuat jembatan kabel. Pembuatan jembatan kabel ini harus seijin dari PEMDA atau PU setempat.
Kontruksi jembatan kabel harus disesuaikan denga lebar bentang sungai.

Melintasi kabel tegangan tinggi (PLN)
Bila pada waktu penggalian terdapat  kabel listrik tegangan tinggi,              maka jarak yang diperbolehkan adalah sebagai berikut :
a)    Jika sejajar maka jarak terdekat minimum = 80 cm;
b)    Jka menyilang, maka persilangannya harus tegak lurus dan jarak terdekat minimum 45 cm;
c)    Sepanjang 1 meter pada persilangan ini kabel harus dilindungi / dimasukan ke dalam pipa besi galvanis.

Hal-hal lainnya
a)    Apabila ada tiang listrik, maka galian alur kabel harus berjarak paling sedikit ± 30 cm

Gambar 4.7 : Alur kabel kabel dekat tiang listrik

b) Jarak galian alur kabel terhadap pinggir parit berbeton paling sedikit 25 cm. Jarak galian alur kabel terhadap pinggir parit tidak berbeton paling sedikit ± 50 cm


Gambar 4.8 : Alur galian kabel dekat parit berbeton
Gambar 4.9 : Alur galian kabel dekat parit tidak berbeton


c)    Pada waktu pemasangan/penanaman kabel haus dibuat berkelok-kelok yang bertujuan apabila terjadi gangguan dan akan disambungkan tidak perlu menyambung / menambah kabel baru yang lain

Gambar 4.10 : Peletakan kabel pada alur galian



4.2.        Cara Penarikan Kabel Tanah Tanam Langsung
Persiapan penarikan

Setiap kita akan melaksanakan suatu pekerjaan, tentunya perlu persiapan-persiapan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut, dalam hal ini pemasangan kabel.
Hal yang perlu disiapkan adalah sebagai berikut :
Alat-alat yang perlu dipakai :
a)    Alat untuk penggalian;
b)    Alat untuk penarikan kabel;
·         Dongkrak kabel
·         Rol
·         Motor penarik/geraobak penarik kalau ada
·         Rambu-rambu lalu-lintas
·         Alat pengaman
Material yang diperlukan :
a)    Batu pelindung (deskteen;
b)    Pipa-pipa besi/pralon (jika diperlukan);
c)    Pasir.
Pengangkutan
         Peralatan dan material diangkut dari gudang ke lokasi atau pengembalian haspel/sisa kabel dari lokasi ke gudang dengan menggunakan truk atau alat angkut lainnya yang dianggap layak.
         Khusus untuk mengangkut kabel, persyaratan yang harus diperhatikan adalah :
a)    Kabel diangkut dengan menggunakan Cable Trailer;
b)    Kabel diangkut dengan menggunakan truk.

Menaikan dan menurunkan kabel dengan 2 (dua) cara,         yaitu :
a)    Menggunakan tali dan papan peluncur;


Gambar 4.11 : Menaikan/menurunkan kabel pada papan peluncur


b)    Menggunakan katrol
Posisi kabel pada truk harus seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 4.12 : Menaikan/menurunkan kabel dengan katrol


Petugas yang terdiri dari :
a)    Pengawas;
b)    Pemimpin pelaksana/ketua regu;
c)    Pelaksana yaitu orang yang melaksanakan pekerjaan.
Obat-obatan (PPPK) secukupnya.

Teknik pelaksanaan
Pertama-tama dibuat galian alur kabel yang telah direncanakan.        Apabila alur kabel tersebut telah selesai barulah penarikan kabel                dapat  dimulai.
Penarikan kabel dapat dilaksanakan dengan 2 (Dua) cara, menurut situasi tempat/pekerjaan :
a)    Situasi dimana alur/jalannya kabel tidak terdapat hambatan- hambatan (misalnya : Menyebrang jalan, rel kereta api, parit, atau sungai dan lain-lain), dan berada di tepi jalan.
Dalam situasi ini penarikan kabel dapat dilaksanakan sebagai            berikut :
·         Penarikan dimulai dari ujung alur kabel yang mendekati                kantor (MDF = untuk kabel primer, RK = untuk kabel sekunder);
·         Kabel dengan haspelnya kita taruh di atas dongkrak kabel, kemudian kita naikkan di atas kendaraan yang digunakan untuk menarik (mobil, gerobak);
·         Ujung kepala kabel (ujung kabel yang berada di luar) kita                tarik  melalui  bagian    bawah  haspel,     kemudian      kita               tambatkan pada tempat di mana ujung kabel tersebut                 nantinya akan ditambatkan;
·         Kabel ditarik dengan cara menjalankan kendaraan penarik,                  maju menuju ujung jauh dari alur kabel secara pelan-pelan;
·         Setelah pada ujung jauh, maka kabel yang sudah tergelar sepanjang alur galian, kemudian dimasukkan ke dalam                     galian, di mana sebelumnya galian tersebut telah diisi pasir setebal (setengah) dari tebalnya;
·         Pada saat kabel telah masuk dalam galian maka kabel                   dapat dipotong secukupnya.

            Perlu diperhatikan bahwa setelah dipotong, maka ujung kabel                 harus ditutup/didop, terutama sekali untuk kabel isolasi kertas,                    baik ujung kabel yang ditanam maupun ujung kabel yang berada               dalam haspel/kabel sisa.



Gambar 4.13 : Mengulur kabel dengan kendaraan penarik

b)    Situasi di mana jalur kabel terdapat beberapa hambatan (seperti menyeberang jalan, rel kereta api dan lain-lain) sehingga sebagian kabel harus dimasukkan ke dalam pipa.
Dalam hal ini cara tersebut di atas tidak dapat dilaksanakan, maka ditempuh cara sebagai berikut :
·         Penarikan dimulai dari ujung jauh alur kabel (ujung kabel yang menjauhi kantor MDF/RK);
·         Kabel dipasangkan di atas dongkrak kabel, dan ujung kepala kabel ditarik melalui bagian bawah haspel. Pada waktu mengeluarkan kabel dari haspelnya atau sewaktu-waktu melalui tikungan, harus dihindarkan terjadinya tekukan tajam pada kabel atau terpilihnya kabel. Tekukan kabel tidak boleh lebih kecil dari 20 kali penampang kabel.
·         Haspel dongkrak kabel pada posisi tetap, sedangkan ujung kepala kabel ditarik perlahan-lahan menuju kea rah kantor/RK;
·         Agar supaya kabel tidak bergesekan dengan tanah kasar, batu-batu ataupun benda-benda tajam lain, maka sepanjang jalur penarikan kabel perlu dipasang rol-rol kabel tiap jarak ± 2 meter.
·          Cara lain dapat ditempuh dengan mengusahakan agar kabel               tidak bergesekkan dengan tanah yaitu dengan cara kabel                 tersebut dipegang / ditarik oleh banyak orang, satu sama lain mengambil jarak tertentu (3 sampai 4 meter); Pada setiap penyebrangan (jalan rel kereta api, parit) ujung kabel dimasukkan ke dalam pipa yang telah disediakan;
·         Setelah ujung sampai pada tujuan, maka kabel yang telah ditarik dapat dimasukkan ke dalam galian yang sebelumnya telah diisi dengan pasir  (setengah   tebal    yang   telah  ditentukan seharusnya);
·         Kemudian sisa kabel dapat dipotong, setelah diukur secukupnya        dan   setelah   pemotongan    ujung-ujung   kabel segera ditutup/didop.
Catatan :
Cara pointer (¨) kedua adalah yang paling banyak digunakan dalam pelaksanaan, dikarenakan sesuai dengan segala situasi

.
Gambar 4.14 : Mengulur kabel dengan menarik ujung kabel



4.3.        Penimbunan/pengembalian tanah galian

Setelah penarikan selesai maka galian kabel dapat ditutup/ditimbun           kembali dengan cara :
a)    Ditimbun pasir lagi setinggi ± 5 cm
b)    Batu pelindung kabel (deskteen) dipasang di atas timbunan pasir secara berderet rapat berurutan di sepanjang alur galian kabel;
c)    Selanjutnya ditimbun tanah bekas galian;
d)    Ditimbun batu-batu dan aspal untuk jalur kabel pada tepi jalan (permukaan bekas galian dikembalikan sama seperti keadaan semula);
e)    Dengan demikian pemasangan/penarikan kabel tanah telah selesai
f)     Pembuangan Sisa Tanah Galian
Sisa tanah galian (setelah sebagian digunakan pengurugan tanah kembali) wajib dipindahkan dan dibuang pada tempat yang telah ditentukan. 


4.4. Pemasangan Saluran Penanggal Bawah Tanah
¨  Kotak Pembagi (KP) bawah Tanah
      KP bawah tanah yang telah dipakai oleh Operator telekomunikasi  diantaranya:
Sambungan Pembagi Bawah Tanah (SPBT)
      Titik sambung diletakkan pada dinding Pit Handhole

.

Gambar 4.15. : Sambungan Pembagi Bawah Tanah (SPBT)

Keterangan :      j   Kabel sekunder jelly
                           k   Handhole untuk sambungan Pembagi Bawah Tanah
                           l   Kabel Distribusi
                           m   Pit Handhole untuk rute kabel distribusi

Gambar 4.16. : Jaringan Kabel distribusi SPBT


         Dilihat dari susut keindahan jenis DP ini sangat memenuhi syarat, namun pada kenyataannya sangat rawan terhadap air, sehingga gangguan sering teradi dikarenakan masuknya air kedalam sambungan urat kabel didalam SPBT tersebut

.

¨       Terminal Post / Tabung Pembagi (TP)
1.     Terminal Post (TP)
2.     Terminal blok
3.     Kabel Sekunder
4.     Saluran Penanggal
5.     Pondasi T
6.     Handhole/Pit
7.     Pipa PVC d = 60 mm
8.     Pipa PVC d = 30 mm
 

Gambar 4.17  :  Terminal Post

1.     Kabel sekunder jelly
2.     Handhole untuk sambungan pembagi bawah tanah
3.     Kabel sekunder jelly kabel distribusi
4.     Kabel distribusi
5.     Handhole/Pit untuk rute kabel distribusi
 

















Gambar 4.18. : Jaringan Kabel Distribusi Terminal Post


1)    Terminal Post yang baik harus memenuhi persayaratan teknik sebagai berikut :
a)    Harus kuat terhadap benturan
b)    Harus kedap terhadap air hujan dan udara lembab
c)    Harus dapat dikunci hingga aman terhadap usaha perusakan, pencurian dan perbuatan yang tidak bertanggungjawab.
d)    Mempunyai bentuk yang baik dan mudah dipasang pada tempat-tempat yang sulit dan sempit
e)    Mudah cara pemasangannya, termasuk pemasangan perlengkapannya maupun kabel sekunder serta kabel distribusi kerumah pelanggan.
2)    Pemasangan Terminal Post
a)    Terminal Post ditanam dengan kedalaman galian ±50 cm
      Terminal Post dimaksud telah dilengkapi dengan terminal blok dan dimontase stub kabel seknder.
b)    Sebelum diberi pondasi dari beton Terminal Post diberi tiang penguat sementara.
c)    Setelah tiang penguat sementara dipasang, dibuatlah pondasi beton dengan campuran 1 : 2 : 3

Dimensi pondasi beton :
a)    Ukuran permukaan atas= 50 cm x 50 cm
b)    Ukuran bagian bawah = 60 cm x 60 cm
c)    Tinggi pondasi disesuaikan dengan kondisi tanah dimana terminal post dipasang/ditempatkan :
(1)  Tinggi pondasi = 50 cm
ü  Diatas permukaan tanah        = 20 cm
ü  Dibawah permukaan tanah    = 30 cm
(2)  Tingi pondasi  = 70 cm
ü  Diatas permukaan tanah        = 20 cm
ü  Dibawah permukaan tanah    = 50 cm
(3)  Tinggi pondasi = 80 cm
üDiatas permukaan tanah  = 30 cm
ü  Dibawah permukaan tanah    = 50 cm



Gambar 4.19 : Pemasangan Pondasi Terminal Post

¨  Hand hole / Kabel PIT
¨       Hand hole dibuat dari beton dengan campuran 1 : 3 : 5.
Dapat dibuat lebih dulu sebeum dipasang (presast) atau dapat juga dibuat setempat/ditempat pekerjaan dengan ukuran :
1)    Panjang                    = 60 cm
2)    Lebar                        = 40 cm
3)    Tinggi / dalam          = 40 cm
Gambar 4.20 : Handhole / PIT

¨       Hand hole diberi lubang dengan diameter 6 cm pada kedua sisi yang berlawanan utnuk penempatan pipa PVC diameter 6 cm. demikian juga pada kedua sisi yang lainya dipersiapkan lubang dengan diameter 3 cm (1 inchi) untuk penempatan pipa PVC diamter 3 cm (1 inchi) guna alur kabel distribusi kerumah pelanggan.
¨       Penempatan hand hole :
1)  Dibangun didepan Terminal Post dengan maksud untuk :
a)  Penyambungan dari kabel sekunder keterminal blok
b) Mempermudah pemasangan kabel distribusi ke rumah pelanggan
2)   Dibangun didepan rumah dua atau tiga pelanggan yang berdampingan / sejajar dengan catatan bahwa setiap manhole dapat mencatu sebanyak mungkin pelanggan telepon.
¨       Pemasangan pipa PVC :
Pemasangan pipa PVC diameter 6 cm maupun yang 3 cm pada lubang hand hole harus kokoh, rapat dan tidak bocor. Gunakan perekat plastik (sdhesive compoun), flincoote atau sejenisnya pada sisi luar maupun sisi dalam

.

Gambar 4.21 : Pemasangan pipa PVC pada lubang Manhole


¨  Pipa PVC
¨       Jenis pipa PVC :
Pipa PVC yang digunakan harus sesuai dengan spesifikasi PT. TELKOM nomr STEL-L-008.
a)    Untuk alur dari hand hole ke hand hole digunakan pipa PVC berdiameter 6 cm dengan tebal sekurang-kurangnya 5,5 mm.
b)    Untuk alur dari hand hole ke rumah pelanggan digunakan pipa PVC berdiameter 3 cm dengan tebal sekurang-kurangnya 5,5, mm
¨       Penyambungan pipa PVC
Sebelum pipa PVC dimasukan dalam soket penyambung, kedua ujung pipa PVC dan kedua ujung harus dibersihkan dulu dengan sikat bajaa atau amplas yang kasar. Kemudian diberi perekat PVC pada bagian pipa dan PVC yang diersihkan/dikasarkan, selanjutnya kedua ujung pipa tersebut dimasukan kedalam soket.
Untuk mengeringkan perekat dan letak pipa pada soket dibutuhkan waktu kira-kita 5 sampai 10 menit.

¨       Pemasangan pipa PVC pada alur galian
1)  Pipa PVC antar hand hole
a)  Ukuran galian untuk menanam pipa PVC :
ü  Lebar= 20 cm
ü  Kedalaman=50 cm
Khusus di wilayah DKI kedalaman galian = 110 cm
b)    Pada dasar galian diberi lapisan pasir setebal 10 cm
c)    Pipa PVC diletakkan dan kemudian diurug dengan lapisan pasir setebal 10 cm
d)    Selanjutnya diurug dengan tanah biasa dengan catatan bahwa tanah urug dimaksud harus bersih dari batu-batu dan benda tajam yang dapat merusak pipa PVC



Gambar 4.22 : Galian untuk pipa PVC
           

2)  Pipa PVC dari hand hole kerumah pelanggan
Pada dasarnya sama dengan pemasangan pipa PVC antar hand hole, namun lebih banyak hambatan karena biasanya harus menembus pagar tembok dan lain-lainnya.
Jumlah pipa yang ditanam tergantung pada letak dan jumlah rmah-rumah pelanggan.
Apabila penanaman pipa PVC kerumah pelanggan harus melintasi selokan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :
a)    Melalui bawah dasar selokan
b)    Melalui atas selokan, dengan mengatur sedemikian rupa hingga tidak mengganggu aliran air selokan

.
Gambar 4.23 : Pemasangan pipa PVC melintasi selokan


3)  Pipa PVC pada rumah pelanggan
Pemilihan letak pipa PVC yang menuju kerumah pelanggan tergantung pada letak terminal blok.
Penemapatan yang paling baik  adalah diluar rumah

.
Gambar 4.24 :   Pemasangan pipa PVC pada rumah pelangggan

 


4.5.  KESELAMATAN KERJA

Umum
Untuk menciptkan situasi kerja yang aman, petugas teknik jaringan harus benar-benar memahami:
a)    Langkah-langkah atau aturan-aturan keselamatan kerja yang baik dan benar
b)    Menghindarkan hal-hal yang dapat menyebabkan kecelakaan atau membahayakan
c)    Bekerja tidak terburu-buru ,teliti dan hati-hati
               Adapun sebab kecelakaan itu sendiri ,dapat dikelompokkan kedalam beberapa kelompok utama yaitu :
a)    Peralatan yang tidak atau kurang aman (misalnya yang tidak berisolasi ,sabuk            pengaman yang kuncinya hilang dsb)
b)    Kondisi lingkungan yang tidak aman (misalnya penerangan yang tidak cukup ,ventilasi kurang ,pakaian kerja yang tidak aman ,dll )
c)    Manusianya sendiri yang tidak aman (ceroboh )misalnya sikap yang tidak wajar , pengetahuan dan keterampilan kurang ,dll.

Keselamatan kerja
               Setelah kita ketahui tentang sebab-sebab kecelakaan ,maka perlu diketahui cara-cara menghindarinya , yaitu :
Sikap petugas
a)    Petugas agar bersikap wajar , berkesadaran penuh , tidak gugup , dan mengerti maksud perintah dalam mengoperasikan peralatan.
b)    Petunjuk operasi setiap peralatan harus dipahami dan dimengerti  sungguh-sunguh oleh setiap petugas.
c)    Mematuhi prosedur kerja yang telah ditentukan

Perkakas atau Alat kerja
a)    Pergunakan alat kerja yang tepat untuk setiap pekerjaan
b)    Pastikan bahwa perkakas yang akan digunakan dalam kondisi   baik dan  tidak ada kekurangan kelengkapannya .
c)    Pergunakan alat pelindung diri bagi pekerjaan-pekerjaan yang    berbahaya  antara lain : Sarung tangan, sepatu pengaman, sabuk pengaman, topi pengaman atau helm kacamata pengaman (testprator) dll.


Lingkungan
a)    Setiap lingkungan kerja harus diberi penerangan yang cukup terdiri dari 2   macam, yaitu :
·         Penerangan khusus jika diperlukan penerangan tambahan bagi bidang     pekerjaan tertentu dan boleh bersifat sementara
·         Penerangan umum yang berlaku untuk seluruh ruangan
b)    Peliharalah tingkat kebisingan lingkungan kerja misalnya ruang  diesel, ruang penggergajian, dll, para pekerja harus  menggunakan pelindung  telinga
c)    Jika bekerja di tepi jalan raya, maka harus dipasang rambu-rambu yang  jelas baik siang maupun malam hari.
d)    Usaha preventif mencegah kecelakaan kerja
·         Ventilasi
      Ruangan harus cukup ventilasi untuk menciptakan sirkulasi udara yang sehat dan membuat ruangan segar dan nyaman.
·         Penggunaan perlengkapan pengaman
      contoh: sabuk pengaman , sarung tangan , helm , dsb.
·         Pemeliharaan preventif berkala terhadap perkakas kerja
Ø  Mengganti/memasang tang , obeng yang hilang /rusak isolasinya
Ø  Melumasi bagian –bagian peralatan  yang memerlukan pelumasan
Ø  Mengecek/memperbaiki klep/kran elpiji/kompor minyak
·         Memasang tanda-tanda peringatan yang jelas
Tanda dilarang merokok , tegangan tinggi , mudah terbakar dll.
·         Persediaan fasilitas pengaman
Pemadam kebakaran  ,                            Perlengkapan p3k dsb.

Prosedur keselamatan kerja
Bekerja ditempat instalasi listrik
a)    Gunakan perlengkapan kerja yang berisolasi , sepatu ,  sarung tangan karet dsb.
b)    Jika memungkinkan matikan dahulu saklar utama kemudian baru  mulai bekerja.
c)    Jangan membawa benda-benda dari logam didalam kantung , sehingga mudah jatuh.
d)    Perhatikan tanda-tanda peringatan yang ada


Bekerja ditempat yang panas
a)    Jangan memakai pakaian yangketat
b)    Pakailah topi lebar pelindung matahari
c)    Cukup minum
d)    Jika tidak mengikuti aturan diatas , kemungkinan yang terjadi :Kehabisan tenaga , Pusing ,mual ,muka pucat bahkan bisa pingsan

Cara mengangkat , menarik ,dan mendorong beban
Mendorong
a)    Letakkan kaki seimbang dengan satu kaki berada didepan
b)    Tumpuan berat badan pada kaki yang depan
c)    Punggung harus selalu lurus
d)    Kepala tegak menghadap kedepan , jangan kekiri kekanan , keatas atau kebawah
e)    Kaki yang di belakang memberi tenaga dorong dibantu dengan gaya berat  badan kedepan
Menarik
a)    Punggung harus lurus
b)    Kaki depan , dengkul memberi tenaga tarik, sedangkan kaki belakng menjaga   keseimbangan
Mengangkat
a)    Posisi badan jongkok dengan kedua kaki renggang, satu kaki agak ke depan
b)    Punggung harus lurus
c)    Tenaga angkat dari otot-otot kaki dan persendian kaki begian bawah juga dengkul.

4.5.1. PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN (PPPK)
1. Umum
Pada saat kita sedang bekerja, meskipun kita sudah memetuhi peraturan keselamatan kerja, tidak mustahil pula akan terjadi kecelakaan kerja baik yang ringan ataupun berat, misalnya:
a)    Sengatan listrik saat bekerja pada saluran kawat
b)    Kejatuhan benda keras dari atas, dsb

Untuk itu, kita harus mengetahui beberapa hal penting cara mengatasinya guna menghindarkan akibat yang fatal bagi si korban.

Pertolongan pertama pada korban yang terkena aliran listrik
a.    Di atas lantai atau tanah
      Penolong harus diperlengkapi dengan bahan-bahan berisolasi, misalnya: sarumg tangan dari karet/plastik atau dibalut dengan kain yang kering. Kaki beralaskan bahan dari karet, karpet atau kayu, keset yang kering. Bisa menggunakan tongkat yang kering. Langkah pertolongan:
·         Putuskan/jauhkan kawat/kabel dari si korban dengan kapak ata u
tali dsb
·         Tarik si korban dengan memegang bajunya untuk membebaskan si korban dari kawat/kabel hidup, atau bila kawat/kabel sumber listrik diketahui, segeralah mematikan saklar utama atau mencabutnya dari stop kontak. 

Jika strum kuat dan korban pingsan
Strum kuat akan mengakibatkan nafas dan denyut jantung berhenti, untuk itu kia harus sesegera mungkin memberikan pertolongan. waktu setelah kena strum sampai kira-kira 4 menit kemudian  adalh angat medekati kematian seseorang, maka pertolongan darura yang harus diberikan nafas buatan yang bisa dilakukan dari mulut ke mulut atau dari mulut ke hidung.

Cara memberikan nafas buatan:
·         terlentangkan korban dan bersihkan mulutnya
·         angkat dan luruskan leher atau tengkuknya (menengadahkan kepala) agar didapat jalan nafas udara segar
·         hembuskan nafas bersih ke mulut atau hidung si korban
·         Usahakan selanjutnya adalah segera membawa korban ke rumah sakit terdekat sementara usaha darurat terus dilakukan sampai korban bernafas.

Cara memberi nafas buatan:
Dari mulut ke hidung
a)    posisi kepala korban tengadah
b)    ambil nafas dalam-dalam kemudian hembuskan ke lubang hidung korban
c)    pada saat tersebut mulut korban harus ditutup dengan tangan kita agar udara benar-benar masuk
d)    ulangi hal tersebut sampai dia mulai bernafas
e)    Jika belum juga ada tanda-tanda bisa bernafas, usahakan memberi nafas buatan agak cepat

Dari mulut ke mulut.
a)    posisi badan tengadah
b)    pijit hidung si korban
c)    buka mulutnya, kemudian hembuskan udaradari mulut kita ke mulut korban
d)    Meneliti apakah korban bisa bernafas atau belum
e)    perhatikan dada mulai bernafas atau belum setelah kita memberi hembusan
f)     bila masih tersendat lakukan lagi nafas buatan 4 kali agak cepat dan dalam
Periksa denyut jantung bila dengan nafas buatan tidak ada tanda-tanda bernafas, pada lekuk leher dan pada nadi pergelangan tangan.
Periksa juga biji-biji mata melebar atau tidak mengedip bila disinari langsung

4.5.2.    Pertolongan pertama pada luka
Luka tidak boleh dipegang, jangan membasuh luka dengan air meskipun luka tampak kotor. Tutuplah segera luka dengan pembalut luka yantg steril kering. Jangan mempergunakan bahan kain yang menutup luka misalnya sapu tangan, bahan bekas. Apabila bahan-bahan yang steril tidak tersedia lebih baik dibiarkan terbuka.
Pembalut luka hanya dapat menahan luka-luka yang dangkal. Pada waktu membalut luka misalnya pada anggota badan, usahakan anggota badan yang terluka diangkat ke atas. Apabila luka sangat dalam dan pendarahan banyak diusahakan pencegahan pendarahan seperti pembahasan berikut ini.

4.5.3.    Macam-macam luka
pendarahan arteri
pendarahan arteri dapat diketahui apabila darah keluar memancar dari luka, cobalah menghentikan darah dengan membalut luka dengan pembalut streril. Apabila tidak berhasil tekuklah sampai batas maksimum sendi sendi tepat di atas luka (misalnya sendi paha, lutut, sikut) dan pada posisi tersebut ikat dengan pita kain atau sabuk, apabial masih tidak berhasil pasang torniket pada lengan atas atau paha. Jika torniket tidak ada blokir dengan menekan arteri tersebut dengan kedua ibu jari dilekatkan paralel pada tempat tersebut.
luka pada mata
Balut kedua mata meskipun yang satu tidak luka, dengan plester apabila luka karena bahan kimia, misalnya: kena soda, asam keras, atau amoniak cucilah mata dengan air bersih. Pergunakan ibu jari dan telunjuk untuk membuka mata selebar-lebarnya.
keracunan gas
Usahan udara yang bersih, penderita dibawa ke luar atau jendela dibuka.
Ada dua macam gas yang berbahaya:
gas yang tidak berbahaya untuk paru-paru misalnya gas yang meracuni darah dan syaraf, narkotika, karbon monoksida, asam sianida, ether, chloroporm, uap bensin atau bensol. Buka baju penderita, jangan sekali-kali memberi minum penderita yang pingsan. Gosoklah tangan dan kaki penderita dengan tangan, apabila pernafasannya berhenti usahakan pernafasan buatan, kalau dapat dengan alat penghisap oksigen.
Gas yang merusak paru-paru seperti chlor phosgen, gas nitro, sulfur dioksida, dsb. Buka baju penderita, kemudian jauhkan penderita dari baju yang sudah penuh dengan gas. Usahakan pasien tenang dan berbaring terlentang, jangan diperbolehkan untuk berjalan. Apabila sadar berilah air kopi atau air panas, dalam hal ini pernafasan buatan dilarang.

4.5.4.  PROSEDUR KESELAMATAN KERJA

Bekerja di Jalan
a.    Perijinan
      Untuk bekerja di jalan, harus ada surat ijin dari polisi/pihak berwenang, selain itu patuhi aturan-aturan yang ditetapkan
b.    Kewajiban Penanggung jawab Lapangan
      Hal-hal yang harus dilakukan oleh petugas lapangan “
·         Sebelum mulai bekerja, periksa lokasi kerja dan kondisi lalu lintas. Setelah itu rencanakan dan koordinasikan pekerjaan instalasi dengan menggunakan perlengkapan keselamatan kerja untuk mencegah kecelakaan lalu lintas dan menjaga keselamatan pejalan kaki.
·         Ambil tindakan untuk mencegah masuknya pihak ke 3 ke lokasi kerja, kemudian periksa fasilitas keselamatan kerja secara periodic
·         Tempatkan orang-orang untuk mengatur lalu lintas sehingga arus lalu lintas tidak terganggu
·         Penempatan Material Dan Peralatan di Lokasi Kerja

Hal-hal yang harus dipertimbangkan untuk menempatkan material dan peralatan di jalan :
a)    Atur semua material dan peralatan agar tidak berserakan kemudian pasang alat keselamatan kerja
b)    Pada malam hari, nyalakan lampu pengaman agar pihak ketiga dapat melihat dengan jelas
Cara Parkir
Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam memarkir kendaraan :
·         Lindungi para pekerja dari kecelakaan lalu lintas. Kendaraan harus selalu diparkir didaerah yang berlawanan dengan arus lalu lintas

Gambar.4.25.  Penempatan kendaraan dilokasi proyek


·         Pasang rem tangan dan ganjal ban didepan dan belakang
·         Pasang gigi rendah atau gigi mundur sesuai dengan kemiringan lokasi

Jalur untuk pejalan kaki
Untuk menjaga keselamatan dan memberi ruang untuk pejalan kaki, beri jarak 1,5m pada lebar jalan. Jika sangat terpaksa sediakan jarak minimum 0,75 m

Jalur untuk kendaraan umum
Dijalan yang sempit pertimbangkan hal-hal berikut :
a)    dijalan satu arah, sisakan lebar jalan 3 m atau lebih
b)    dijalan dua arah, sisakan lebar jalan 5,5 m atau lebih
Pemasangan Rambu-rambu pengaman
Tujuan
Saat melakukan pekerjaan di jalan, penting untuk memberitahu sopir dan pejalan kaki bahwa sedang ada konstruksi. Fasilitas keselamatan kerja tidak hanya berfungsi sebagai informasi bagi sopir dan pejalan kaki akan adanya konstruksi tapi agar lalu lintas dan pekerjaan berjalan lancar. Fasilitas keselamatan kerja dipasang terutama untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
                 Yang harus diperhatikan saat memasang keselamatan kerja :
a)    Instalasi fasilitas keselamatan kerja harus dilakukan dengan benar untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Untuk itu fasilitas keselamatan kerja tidak boleh dicabut atau diganti dengan alasan karena waktu konstruksi yang pendek atau resiko kecelakaan yang rendah.
b)    Papan peringatan dan safety cones harus berukuran besar dan menggunakan lampu
c)    Karena waktu memasang dan mencabut fasilitas keselamatan kerja sangat berbahaya, harus ada orang yang mengatur lalu lintas, lakukan hal itu secepat mungkin.
d)    Fasilitas keselamatan kerja dipasang mulai dari arah datangnya kendaraan. Sedangkan pencabutan dilakukan dari arah perginya kendaraan

 






                


Gambar 4.26. Urutan pemasangan fasilitas keselamatan kerja


 









Gambar.4.27. Urutan Pencabutan fasilitas keselamatan kerja

Setelah fasilitas keselamatan kerja dipasang, pastikan fasilitas-fasilitas tersebut dapat berfungsi dengan baik
Jenis-Jenis Rambu Pengaman
a)    Papan peringatan (rambu pengaman) dipasang diseberang jalan agar kendaraan kendaraan tidak memasuki lokasi konstruksi


Ganbar.4.28. Contoh papan peringatan


b) Tujuan pemasangan papan peringatan
·         Papan peringatan dipasang agar pengemudi dan pejalan kaki bisa melihat lokasi konstruksi didepan mereka
·         Papan peringatan dapat dipasang pada jarak 50 – 1000 m dari lokasi konstruksi

Gambar.4.29. Penempatan papan peringatan

Peralatan Keselamatan kerja
Jenis dan fungsi peralatan kerja (minimal yang harus dimiliki)
  1. Rambu-rambu pengaman
Untuk memberikan informasi kepada masyarakat umum disekitar lokasi bahwa ditempat tersebut sedang dilakukan suatu kegiatan
  1. Helm Pengaman
Fungsi utama dari helm adalah untuk menghindari kepala dari benturan mekanis
  1. Sabuk Pengaman
Berfungsi untuk melindungi pekerja dari kemungkinan jatuh dari tempat yang tinggi
  1. Sarung Tangan
Berfungsi untuk melindungi tangan dari gesekan benda-benda tajam juga pelindung terhadap sengatan listrik
  1. Sepatu Lapangan
Berfungsi selain untuk melindungi kaki dari benturan mekanis juga berfungsi sebagai pelindung terhadap sengatan listrik
  1. Alat Pendeteksi Gas (Gas Detector)
Untuk mengetahui kandungan udara di dalam manhole
  1. Kipas Angin Ventilasi Manhole (Ventilator)
Fungsi utamanya untuk menghilangkan gas-gas berbahaya serta mencukupi kandungan oksigen
  1. Masker
Digunakan pekerja untuk melakukan pertolongan bagi korban kecelakaan yang diakibatkan keracunan gas-gas berbahaya
  1. Tangga
Berfungsi untuk membantu pekerja ditempat yang tinggi )diatas tiang) yang tidak terjangkau oleh tangan pekerja pada posisi berdiri
  1. Tali
Untuk mengikat peralatan saat menaikkan atau menurunkan peralatan diatas tiang atau di dalam manhole
  1. Alat Penerangan
Berfungsi untuk membantu pekerja saat melakukan kegiatan ditempat yang gelap
  1. Tenda
Melindungi pekera dari panas dan hujan
  1. Handy Talky
Berfungsi untuk komunikasi antar petugas yang tempatnya salaing berjauhan
  1. Head Cop
Berfungsi untuk melindungi telinga dari kebisingan

  1. Baju Lapangan
Untuk melindungi tubuh dari pengaruh luar
  1. Pompa Air
Untuk mengeluarkan air di dalam manhole

dan sebagainya

4.6.        Rangkuman
1.    Cara Pemasangan kabel tanah tanam langsung ada beberapa kemungkinan ,antara lain :
a.    Di tepi jalan/trotoal
b.    Menyeberang jalan
c.    Menyeberang parit
d.    Menyeberang sungai
2.    Urutan cara penarikan kabel tanah tanam langsung :
a.    Persiapan penarikan
b.    Persiapan alat dan material
c.    Pelaksanaan
d.    Penimbunan/pengembalian tanah galian
3.    Hal hal yang harus dipahami petugas teknik jaringan dalam hal keselamatan kerja antara lain :
a.    Langkah-langkah atau aturan-aturan keselamatan kerja yang baik dan benar
b.    Menghindarkan hal-hal yang dapat menyebabkan kecelakaan atau membahayakan
c.    Bekerja tidak terburu-buru ,teliti dan hati-hati
4.    Sikap petugas dalam hal keselamatan kerja,antara lain :
a)    Petugas agar bersikap wajar , berkesadaran penuh , tidak gugup , dan mengerti maksud perintah dalam mengoperasikan peralatan.
b)    Petunjuk operasi setiap peralatan harus dipahami dan dimengerti  sungguh-sunguh oleh setiap petugas.
a.    Mematuhi prosedur kerja yang telah ditentukan
5.    Perkakas atau alat kerja yang memenuhi syarat untuk keselamatan kerja antara lain :
a)    Pergunakan alat kerja yang tepat untuk setiap pekerjaan
b)    Pastikan bahwa perkakas yang akan digunakan dalam kondisi   baik dan  tidak ada kekurangan kelengkapannya .
c)    Pergunakan alat pelindung diri bagi pekerjaan-pekerjaan yang    berbahaya  antara lain : Sarung tangan, sepatu pengaman, sabuk pengaman, topi pengaman atau helm kacamata pengaman (testprator) dll
6.    Prosedur keselmatan bekerja bekerja di tempat yang panas,antara lain :
a)    Jangan memakai pakaian yangketat
b)    Pakailah topi lebar pelindung matahari
c)    Cukup minum
d)    Jika tidak mengikuti aturan diatas , kemungkinan yang terjadi :Kehabisan tenaga , Pusing ,mual ,muka pucat bahkan bisa pingsan
7.    PPPK pada korban yang terkena aliran listrik adalah :
a.    Putuskan/jauhkan kawat/kabel dari si korban dengan kapak ata utali dsb
b.    Tarik si korban dengan memegang bajunya untuk membebaskan si korban dari kawat/kabel hidup, atau bila kawat/kabel sumber listrik diketahui, segeralah mematikan saklar utama atau mencabutnya dari stop kontak
8.    Cara memberi nafas buatan dari mulut ke hidung,adalah :
a)    posisi kepala korban tengadah
b)    ambil nafas dalam-dalam kemudian hembuskan ke lubang hidung korban
c)    pada saat tersebut mulut korban harus ditutup dengan tangan kita agar udara benar-benar masuk
d)    ulangi hal tersebut sampai dia mulai bernafas
e)    Jika belum juga ada tanda-tanda bisa bernafas, usahakan memberi nafas buatan agak cepat
9.    pendarahan arteri dapat diketahui apabila darah keluar memancar dari luka, cobalah menghentikan darah dengan membalut luka dengan pembalut streril. Apabila tidak berhasil tekuklah sampai batas maksimum sendi sendi tepat di atas luka (misalnya sendi paha, lutut, sikut) dan pada posisi tersebut ikat dengan pita kain atau sabuk, apabial masih tidak berhasil pasang torniket pada lengan atas atau paha. Jika torniket tidak ada blokir dengan menekan arteri tersebut dengan kedua ibu jari dilekatkan paralel pada tempat tersebut
10.  Hal hal yang perlu dilakukan petugas lapangan dalam hal prosedur keselamatan kerja :
a)    Sebelum mulai bekerja, periksa lokasi kerja dan kondisi lalu lintas. Setelah itu rencanakan dan koordinasikan pekerjaan instalasi dengan menggunakan perlengkapan keselamatan kerja untuk mencegah kecelakaan lalu lintas dan menjaga keselamatan pejalan kaki.
b)    Ambil tindakan untuk mencegah masuknya pihak ke 3 ke lokasi kerja, kemudian periksa fasilitas keselamatan kerja secara periodic
c)    Tempatkan orang-orang untuk mengatur lalu lintas sehingga arus lalu lintas tidak terganggu
d)    Penempatan Material Dan Peralatan di Lokasi Kerja

Tujuan pemasangan rambu rambu pengaman adalah Saat melakukan pekerjaan di jalan, penting untuk memberitahu sopir dan pejalan kaki bahwa sedang ada konstruksi. Fasilitas keselamatan kerja tidak hanya berfungsi sebagai informasi bagi sopir dan pejalan kaki akan adanya konstruksi tapi agar lalu lintas dan pekerjaan berjalan lancar. Fasilitas keselamatan kerja dipasang terutama untuk mencegah terjadinya kecelakaan

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;