Kamis, 08 Desember 2011

INSTALASI ! ! kabel duct 1



Kabel duct adalah semua jenis kabel yang konstruksinya dirancang          khusus untuk dipasang di bawah permukaan tanah dan pemasangannya harus diletakkan dalam pipa-pipa di bawah permukaan tanah (sesuai STEL-K-008 dan STEL-K-009).

5.1.        Sistem Duct Beton
§  Konstruksi Pemasangan Sistem Duct
Sistem duct adalah  sistem pemasangan kabel tanah dengan dimasukkan ke dalam pipa yang dicor beton.
Duct yang  dicor beton pada umumnya memakai pipa PVC tebal 2 mm, tetapi dapat juga dipergunakan pipa yang lebih tebal, apabila dikehendaki dan diperlukan. Akan tetapi perlu adanya perubahan pada ukuran dari penyekat, karena penampang dari pipa yang lebih tebal dindingnya akan lebih besar Pipa PVC tebal 2 mm sangat cocok untuk duct beton dan cara ini menguntungkan apabila route duct etrsebut lebih dari dua pipa.
Dalam pembetonan duct, kita kenal dua cara yaitu :
1)    Cara pengecoran standar (Metode A);
2)    Cara pengecoran lapis per lapis (Metode B);

§  Pengecoran Standar (Metode A)
Dalam Multi Exchange Area (MEA), dimana perijinan penggalian           menjadi kendala pokok dalam pembangunan jaringan kabel                     maka untuk alur kabel primer digunakan sistem duct. Dalam                   sistem duct, kabel dimasukkan dalam polongan pipa PVC yang               dicor beton. Jumlah polongan dipersiapkan untuk kebutuhan               sampai 20 tahun mendatang.
Satu susunan pipa PVC yang disebut modul, dicor dengan                        beton yang selanjutnya modul-modul tersebut secara horisontal dipisahkan dengan beton

.    
Gambar 5.1. Modul duct metode A


Cara pembetonan standar adalah yang paling umum dan paling               sering diterapkan untuk pembetonan pipa duct. Cara tersebut di                atas sangat disukai karena cara yang dimaksud dapat dibuat                      alur galian yang panjang, sehingga dapat mempercepat pekerjaan.
1)    Formasi pipa duct;
Formasi pipa duct pada pembetonan standar berbentuk tipis, sehingga dapat dipasang pada lokasi yang sempit dan masih memberikan kemungkinan untuk diadakan penambahan pipa duct lagi disamping pipa duct yang lama. Tetapi dibalik itu formasi duct yang dimaksud membutuhkan alur galian yang sempit dan dalam, sehingga membutuhkan bekisting dan mempunyai ruang gerak untuk bekerja yang sempit. Formasi duct yang tebal/lebar memberikan ruang yang lebih luas untuk bekerja dan tidak diperlukan bekisting, tetapi mempunyai kemungkinan terbatas untuk mengadakan penambahan pipa duct, kecuali apabila pemasangan duct yang terdahulu cukup dalam.
Formasi standar terdiri atas sejumlah modul yang mempunyai jarak horisontal 2,5 cm dan seluruhnya dicor beton dengan keterangan bahwa tebal beton dasar, samping dan atas sampai susunan pipa duct adalah 5 cm. Apabila susunan pipa duct lebih tinggi dari 6 pipa perlu diadakan pengecoran dua kali, setelah dicor susunan yang kedua, seperti gambar berikut ini

.

Gambar 5.2. Formasi pipa duct


2)    Lebar dan kedalaman galian
Lebar dari alur galian tergantung dari jumlah modul yang                     akan ditanam secara horisontal. Dalam tabel diberikan                         lebar alur galian yang dihubungkan dengan jumlah modul                sebagai berikut

:   
Tabel 5.1  : Hubungan Lebar galian dengan Jumlah Modul

Jumlah modul
Lebar alur galian
2
3
4
5
7
8
36 cm
48 cm
61 cm
76 cm
92 cm
± 122 cm


Kedalaman alur galian ditentukan oleh jumlah pipa duct                    yang ditanam secara vertical, gangguan bila ada, dan                        jarak kedalaman duct dengan permukaan tanah                                  yang minimum 80 cm, atau sesuai dengan peraturan PEMDA setempat (misalnya di DKI 110 cm). Sejauh mungkin dasar                dari alur galian supaya mengikuti garis luar dari tanah                        untuk menghindari hambatan.  

3)    Material
a)                            Beton
Campuran beton untuk pengecoran duct harus                      memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh PT.                        TELKOM dengan keterangan bahwa beton tersebut                           mempunyai kekuatan yang cukup untuk menahan/                      memikul beban yang ditentukan. Campuran beton                   ditentukan dengan perbandingan sebagai berikut :

Semen : Pasir : Batu pecahan
= 1 : 3 : 5

Adukan beton dicampur dan diaduk dengan menggunakan mesin pengaduk beton molen dengan urutan pencampuran kerikil, pasir, semen dan terakhir air. Lama  pengadukan minimum 5 menit dengan kecepatan putaran 6 – 12 rpm.
Jumlah beton yang diperlukan dalam pengecoran pipa duct dapat dihitung sebagai berikut :
·         100 meter dari astu pipa duct dibutuhkan ± 1,5 m 3 beton.
·         Bila panjang duct dari 20 pipa adalah 60 meter,                     maka kebutuhan beton dapat dihitung sebagai                    berikut :
Panjang duct = 60 x 20 = 1200 meter.
   1200
   100
 

Jadi kebutuhan beton =          x 1,5 m3 

b)    Penyekat
Penyekat yang dipakai terbaut dari besi palt, tebal 2 mm           dengan ukuran 34,4 x 6,1 x 1,9 cm diberi tiga                               lubang 1,25 cm untuk menempatkan pemancang,                          seperti terlihat pada gambar berikut


Gambar 5.3. Penyekat


Penyekat tersebut dibuat untuk duct 2 pipa sedangkan                untuk duct lebih dari 2 pipa bisa disambung                      penyekatnya.

c)    Pancang penguat
Pemancang penguat jarang dipakai, tetapi pemasangan                    pipa duct di tempat yang kondisi tanahnya kurang baik     dianjurkan pakai pancang penguat.

d)    Pipa PVC/ pralon
Ukuran pipa PVC yang digunakan mempunyai                          diameter dalam 100 mm dan tebal dinding pipa 2,2 mm,                sedang pada lintasan (crossing) jalan atau                                        saluran digunakan pipa PVC dengan diameter dalam                          100 mm dan tebal pipa 5,5 mm.
Pipa PVC tersebut harus memenuhi syarat spesifikasi                     PT. TELKOM STEL-L-008.
Untuk pembuatan route duct dipakai pipa PVC karena mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan yaitu :
a)    Permukaan licin;
b)    Ringan mudah dibawa;
c)    Kedap air;
d)    Tidak berkarat karena terbuat dari PVC;
e)    Tahan terhadap zat-zat kimia;
f)     Mempunyai sifat lentur, sehingga bisa dibuat tikungan;
g)    Mudah penyambungan dengan lem dan sekat pipa. 

4)    Alat yang dipergunakan untuk pengecoran duct ;
a)    Pancang besi
Panjang 1,20 meter q 2,5 cm dipakai sebagai                            pemisah horisontal. Pada kondisi tanah yang kurang                       baik memakai pancang besi panjang 1,80 meter

.
Gambar 5.4. Pancang besi



b)    Bracket Penjepit;
Pipa besi panjang 30 cm dengan diameter dalam 3,2 cm diberi nok dengan draat untuk menjepit pancang

.

Gambar 5.5. Bracket penjepit




c)    Tongkat besi untuk memadatkan beton;
Tongkat besi panjang 1,8 meter dengan diameter 1 cm,             dengan tunit sepanjang 6 cm di satu ujungnya dan ujung             lainnya pakai pegangan untuk mendorong dan memadatkan campuran beton di sela-sela pipa

.


Gambar 5.6. Tongkat besi

d)    Besi pelindung untuk pemukul pancang
Peralatan ini kita pasang pada ujung pancang bila hendak memasang pancang, sebagai pelindung pancang dari kerusakan alat pemukul;

e)    Alat pemukul pancang

5)    Pemasang duct;

a)    Penempatan/pematokan trace jaringan kabel duct;
Pengukuran dan penempatan/pematokan trace jaringan kabel duct harus sesuai dengan gambar desain yang ada.
Pengukuran trace jaringan kabel duct ini dilakukan dengan menggunakan alat ukur optik dan mistar/rollmeter pada tempat tertentu atau setiap jarak tertentu (25-30 m). Pada trace jaringan kabel duct, harus ditanam tanda patok kayu sebagai trace. Pada pengukuran ini ditentukan pula tempat-tempat manhole, atau belokan trace jaringan kabel duct dan lain-lain.
Dalam pelaksanaan pekerjaan ini sebelumnya harus seijin dari pihak PEMDA setempat.

b)    Penggalian;
Tempat penggalian tanah diusahakan terbatas pada lokasi yang tepat dari  trace/jalur jaringan duct kabel seperti yang direncakan dalam gambar desain. Lebar galian diusahakan selebar duct kabel dengan memperhtiungkan yang diijinkan oleh PEMDA setempat;
Pada tanah yang lunak/lembek atau tanah basah, bila dipandang perlu dapat dibuat cetakan (bekesting atau forming) yang dibuat dari papan kayu, agar profil penampang duct kabel yang dibuat sesuai dengan yang direncanakan;
Khusus penggalian tanah pada bagian trace duct kabel yang melintasi/memotong jalan (jalan umum atau jalan masuk rumah), galian wajib ditutup dengan pelat besi yang dapat menahan beban kendaraan yang lewat diatasnya.
Pelaksanaan pekerjaan ini diusahakan secepatnya agar tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas;
Pekerjaan penggalian tanah harus dilakukan dengan hati-hati, agar tidak merusak pipa-pipa (gas dan air), kabel-kabel (listrik, telepon) dan saluran-saluran lain yang sudah ada sebelumnya;
Di lokasi pekerjaan galian harus dipasang rambu-rambu lalu lintas dengan jumlah cukup untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Tanah bekas galian dan batu yang mungkin masih tertinggal di alur galian harus dibuang, sehingga alur galian betul-betul bersih. 

c)    Penempatan/Pemasangan tongkat pemancang;
Tempatkan dua tongkat pemancang bersebrangan pada sisi alur galian dengan jarak ± 2 meter sepanjang alur galian.  Kemudian tongkat pemancang dipancangkan di tengah sedalam 30 cm bila tanah pasir atau lempung, dan 20 cm bila pada tanah biasa. Penempatan tongkat pemancang kira-kira 1 meter dari ujung alur galian untuk menghindari jangan sampai tempat sambungan pipa yang biasanya ada pada tiap-tiap 4,5 meter jatuh tepat pada tongkat pemasang.
Pasang lagi tongkat pemancang pada lobang penyekat yang kosong dan pukul sampai kedalaman ± 1 meter untuk penguat.

d)    Pembersihan dan penyambungan pipa PVC;
Sebelum pipa PVC dipakai, harus diperiksa setiap pipa untuk menjaga agar pipa yang cacat, penyok, pecah dan sobek tidak digunakan;
Bagian dalam pipa pVC diperiksa dan dibersihkan dari kemungkinan terdapatnya benda-benda asing, seprti batu, kayu, paku, potongan besi dan lain-lain;
Selanjutnya penyambungan pipa PVC dilakukan dengan cara sebagai berikut :
·         Bagian luar ujung pipa dibersihkan dengan lap dan spiritus serta demikian pula halnya untuk bagian dalam pipa yang membesar (collar);
·         Sekeliling ujung pipa diberi lem selebar ± 9 cm dengan menggunakan kuas yang baik.
·         Kemudian ujung pipa dimasukkan ke dalam ujung pipa yang lain yang membesar (collar) dengan perlahan-lahan sambil diputar sedikit. Dalam hal ini tidak diperkenankan menggunakan kekuatan berlebihan.
·         Lem sisa yang keluar di sekitar tempat sambungan harus dibersihkan dengan lap katun.

e)    Pemasangan Pipa PVC dan Pengecoran Beton;
(1)  Pemasangan spacer
      Sebelum dilakukan peletakan pipa PVC, terlebih  dahulu dipasang spacer sebanyak 2 buah                (double) yang diletakkan melintang pada setiap jarak          2 meter pada dasar galian. Hal ini dimaksudkan           untuk mendapatkan tebal selimut beton 5 cm di          bawah pipa PVC terbawah (lapisan terbawah                 dari jaringan kabel duct).
Ke-2 spacer diletakkan secara bertolak belakang.            Pada trace yang lurus spacer dipasang   2 m                   dimana spacer pemisah antar pipa PVC                             hanya sebanyak 1 (satu) buah. Pada trace                 lengkung (belokan) sama dengan pada cara trace       lurus, hanya saja jarak setiap spacer adalah 1 meter                        (pipa PVC dilengkungkan/dibelokkan dengan                radius lengkung minimal 12 m); sama dengan                 pada cara trace lurus, hanya saja jarak setiap             spacer adalah 1 meter (pipa PVC dilengkungkan/ dibelokkan dengan radius lengkung minimal 12 m);

(2)  Pemasangan stick
Stick patok besi berdiameter 35,4 mm dan            panjangnya 2 m ditancapkan melewati lubang                pada spacer ke dalam tanah sedalam ± 30 cm;

(3)  Peletakan / penyusunan pipa duct PVC
Pipa PVC yang telah tersambung diletakkan di                atas spacer dan dijepit di antara stick                         (tongkat pemancang) yang telah disiapkan.
Setelah pipa telah tersusun sesuai ketentuan                    dan jumlah yang direncanakan, maka pipa dijepit                agar tidak berubah susunannya dengan                          cara meletakkan sebuah spacer di atas pipa PVC lapisan paling atas.
Untuk mengencangkan jepitannya digunakan             bracket atau klem yang disekrup pada stick/                 tongkat pemancang tengah

.
 Keterangan :
1.     Brecket penjepit
2.     Penyekat atas ( 1 Spacer)
3.     Penyekat antara setiap lapisan pipa (1 spacer)
4.     Lapisan beton
5.     Tongkat pemancang
6.     Pipa PVC
7.     Penyekatan bawah (Duble Spacer)
8.     Pemancang menancap ke dalam tanah (kedalamannya sesuai kondisi tanah)
Gambar 5.7. Cara penyusunan pipa duct


Dekat  dengan manhole jarak pemisah dari pipa-pipa duct menjadi lebih lebar sehingga pengecoran beton lebih sempurna. Jarak Pemisah horisontal yang diatur oleh tongkat pemancang tidak berubah tapi jarak vertical menjadi 4 cm dengan menggunakan spacer/penyekat double, seperti gambar di bawah ini.

Gambar 5.8. Pemasangan penyekat double


(4)      Pengecoran;

         Campuran beton harus dicor sekaligus dan tidak  dibenarkan mengecor sedikit demi sedikit.                    
Agar rongga pipa PVC dapat segera terisi dengan campuran beton, campuran beton harus dituangkan  dengan merata dan jangan menumpuk (terkonsentrasi)               di satu tempat saja.
Pada waktu pengecoran perlu diadakan                     pemadatan  dengan batang perojok (tongkat besi)              supaya beton tersebut betul-betul masuk pada sela-              sela pipa. Setelah pengecoran selesai maka bagian               atas dari susunan pipa teratas yang sudah jadi                   (tidak ditambah lagi) harus ditutup (diselimuti) beton               setebal 5 cm, kemudian permukaannya diratakan.                Apabila lapisan pipa PC  tersebut masih akan ditambah lagi, lapisan penutup   tidak perlu sampai setebal   5 cm.
(5)      Penarikan stick/tongkat pemancang;
Setelah pekerjaan pengecoran selesai dan                        sebelum cor-coran beton mengeras semua tongkat pemancang diambil dengan jalan menarik sambil             diputar. Pada duct yang masih akan ditambah                 pipa, tongkat pemancang ditarik ke atas sampai tongkat pemancang tersebut tinggal 30 cm dalam beton.
(6)      Pembersihan dan perbaikan bekas galian
Setelah semua tongkat pemancang diambil,                  bersihkan semua peralatan dari bekas campuran beton                 dan bekas galian tanahnya dikembalikan seperti              keadaan semula.
(7)      Pengurugan kembali dan pemadatannya, baru              setelah 48 jam pengecoran adukan beton pada bagian bersangkutan.
   
§  Pembetonan berlapis (metode B)

Pembetonan lapis perlapis berarti bahwa tiap-tiap pipa duct dicor/dilapis seluruhnya dengan beton, seperti terlihat dalam gambar dibawah ini.
Cara pembetonan lapis demi lapis diterapkan pada tempat-tempat dimana kondisinya tidak cocok dipasang route duct dengan cara pembetonan standar

.







Gambar 5.9. Pembetonan metode B


1)    Kondisi, dimana cara pembetonan lapis demi lapis lebih menguntungkan dari cara standar adalah :
a)    Apabila hanya dapat digali alur duct yang pendek seperti pada daerah perdagangan yang sangat padat;
b)    Daerah yang tidak mungkin diadakan pengecoran sekaligus dalam jumlah yang banyak;
c)    Daerah batu karan;
d)    Daerah yang apabila diadakan penggalian alur duct yang panjang perlu dipasang lapis per lapis karena kondisi tanahnya sangat lemah.
 
2)    Peralatan yang digunakan
Peralatan yang diperlukan untuk pembetonan cara lapis per lapis hanya penyekat kayu yang mempunyai dua ukuran yaitu untuk 2 atau 4 pipa seperti terlihat pada gambar ini

.  
 

Gambar 5.10. Cetakan/penyekat pembetonan (metode B)



3)    Campuran beton;
Campuran beton untuk pembetonan cara lapis demi lapis adalah sebagai berikut :
a)        Batu pecahan           =  3
b)        Pasir=  2
c)        Semen = 1
d)        Air =  27 liter/zak

4)    Lebar dan kedalaman alur galian;
Lebar alur galian tergantung dari susunan pipa duct yang akan ditanam. Dianjurkan supaya lebar alur galian dapat mengikuti ukuran-ukuran yang ditetapkan, sesuai dengan tabel pada halaman di depan. Kedalaman alur galian dapat ditentukan dengan perhitungan sebagai berikut :

D = Jumlah pipa duct vertikal x 15 + 80 cm 

5)    Pemasangan
      Pemasangan pipa duct dengan cara pembetonan lapis demi lapis adalah sebagai berikut :
a)    Penggalian alur duct sesuai yang ditentukan;
b)    Pasang lapisan beton setelabl 5 cm diatas dasar alur galian;
c)    Tempatkan pipa-pipa pada lapisan beton dan pasangkan penyekat sepanjang alur, lihat gambar di bawah ini;

d)       

Gambar 5.11. Pemasangan pipa duct dan penyekat


e)    Corkan beton pada pipa-pipa duct, dipadatkan dan diratakan, sehingga masuk di antara pipa-pipa sampai setinggi 5 cm yang akan merupakan dasar dari lapisan pipa duct yang kedua;
f)     Ulangi pemasangan pipa dan pengecoran seperti tersebut di atas sampai susunan pipa duct yang dikehendaki selesai;
g)    Setelah selesai, penyekat kayu diambil dan dibersihkan;
h)    Penimbunan route duct seperti semula.

§  Tikungan duct;
Manhole dibuat sesederhana mungkin, dengan keterangan sejuah mungkin manhole tersebut hanya mempunyai 2 jalan/jurusan, sehingga apabila ada pencabangan ke-2 atau lebih arah/jurusan akan diatur dengan tikungan pipa duct

.



Gambar 5.12. Tikungan duct


Pada tikungan dengan radius 11 meter pipa dapat dilengkungkan melalui tongkat pemancang, dengan keterangan bahwa untk penarikan kabel dibutuhkan tikungan yang mempunyai radius selebar mungkin.

§  Kemiringan Duct
Dalam sistem duct, route harus didesain dan dibangun sedemikian rupa sehingga tidak ada bagian route duct diantara mainhole yang melengkung/rendah.
Bila hal tersebut terjadi, maka pada bagian route duct yang melengkungakan berkumpul air kotor, lumpur, kotoran-kotoran lainnya pada bagian tersebut. Lama kelamaan kotoran/Lumpur tersebut akan mengeras dan menyumbat pipa PVC, sehingga nantinya menyulitkan penarikan kabel.
Sumbatan pada pipa PVC tersebut di atas merupakan salah satu dari istilah “duct block” yang dikenal dalam pengoperasian system duct. Agar kondisi demikian dapat dihindarkan, maka route duct harus dibuat dengan kemiringan tertentu, dengan tujuan agar air, kotoran dan lumpur tidak tergenang dalam pipa PVC, melainkan akan mengalir ke dalam Menhole.





¨       Secara teoritis konstruksi kemiringan duct ada 2 (dua) macam, yaitu :
Bila jarak antara Manhole < 200 m, maka kemiringan duct dibuat sebagai berikut :
Ketentuan :


Jarak antara Manhole (meter)
300
 

Kemiringan = 




Misal jarak antara manhole A & B = 180 meter, maka kemiringan yang dibutuhkan = 180 / 300 = 0,6
Artinya :
Bila kedalaman Manhole A = 1,10 meter (spesifikasi PT. TELKOM), maka kedalaman Manhole B     =  1,10 m + 0,60 m
=  1,70 m
Dengan catatan permukaan tanah antara Manhole A & Manhole B datar

.
  

Gambar 5.13. Kemiringan duct pada jarak antar manhole < 200 m


Formula di atas berdasarkan ketentuan yang berlaku di Australia, bahwa kemiringan duct 1 meter untuk jarak 300 meter (penurunan 1 meter dalam 300 meter).

Dalam prakteknya, ada 2 (dua) alternatife yaitu :
1)    Manhole B diperdalam atau;
2)    Lubang pipa pada Manhole B dibuat lebih rendah 0,6 meter.

¨       Bila jarak antar Manhole > 200 meter maka kemiringan pipa duct dibuat pada jarak ± 15 m (tergantung kondisi dalam tanah) sebelum dan sesudah Manhole


Gambar 5.14. Kemiringan duct pada jarak antar manhole >200 m


Dalam kondisi di atas berlaku ketentuan :
1)    Di Indonesia, mengingat kondisi tanah terutama pada kota-     kota besar sering terletak utilitas lain tidak dapat diketahui sebelumnya. Bila kemmiringan duct dengan mengikuti teori di atas, sering terbentur dengan jaringan utilitas lain seperti pipa gas, PAM, riol atau kabel PLN
2)    Hambatan lain adalah besarnya tekanan air tanah, sehingga kedalaman Manhole dibuat dari 1,10 meter, proses pembuatannya mengalami kesulitan akibat lubang galian tergenang air.
3)    Dalam kondisi demikian pengecoran sulit dilakukan dan kalau tetap dipaksakan maka mutu Manhole tidak akan kedap air.
4)    Berangkat dari kesulitan tersebut di atas, maka kemiringan duct yang digunakan di Indonesia saat ini. Tidak menganut pola penuruna 1 dan 30, tetepi berpedoman pada ketinggian lubang pipa dari dasar Manhole





Gambar 5.15. Kemiringan duct di Indonesia


¨       Manhole B diperdalam atau; jarak C dan D (jarak dimulai kemiringan) diatur sedemikian rupa sehingga jarak pipa terbawah dari dasar manholr = d  cm.
Berkaitan dengan pembuangan air, maka dalam system duct, manhole terendah harus dilengkapi dengan pipa pembuangan air. Pipa harus dihubungkan ke roil atau sungai terdekat. sehingga dengan system ini diharapkan air tidak akan tergenang dalam salah satu manhole, melainkan mengalir ke Manhole terendah.

§  Sistem Duct Melintas Parit Atau Sungai
Terdapat 2 (dua) sistem duct saat melintasi parit atau sungai,  yaitu :
a)    lintasan duct di bawah parit/ sungai;
b)    lintasan duct di atas parit/ sungai

¨       lintasan duct di bawah parit/ atau sungai
duct jenis ini biasanya dibuat untuk melintas parit atau sungai yang arus airnya tidak deras. System ini tidak jauh berbeda dengan duct biasa, perbedaannya hanya terdapat pada penggunaan betonnya.
Pada lintasan duct di bawah parit/sungai ini, sitem beton menggunakan beton bertulang dan campuran betonnya adalah 1 pc : 2 ps : 3 kr. dengan campuran beton seperti ini maka pipa PVC dapat terlindungi dari benturan keras pada saat pembersihan atau pengerukan parit/ sungai tersebut

.
Gambar 5.16. Lintasan duct di bawah parit/sungai


¨       Lintasan duct di atas parit atau sungai
Bilamana sistem duct di bawah parit/sungai tidak memungkinkan dietrapkan mengingta kondisi air yang mengalir sangat deras ataupun karena pertimbangan lainnya, maka lintasan duct dibuat lewat sisi atas parit/sungai.

Lintasan duct di atas sungai ini lebih sering dikenal dengan nama “jembatan kabel duct”. Standar type jembatan kabel duct ini adalah terbuat dari profil IWF atau INP seperti terlihat pada gambar di bawah ini

.

Gambar 5.17. Lintasan duct di atas parit/sungai


Mengingat jembatan duct harus seijin dan memenuhi persyaratan dari PU/PEMDA setempat serta kondisi lapangan yang berbeda-beda, maka pelaksanaannya sering dijumpai bentuk jembatan yang tidak standar seperti
a)    Jembatan duct dengan sistem penggantung;
b)    Jembatan duct dengan sistem rangka beton;
c)    Jembatan duct dengan system IWF/INP tetapi profilnya dinaikkan di bagian tengah agar peil bawah jembatan duct sama dengan peil bawah jembatan jalan atau disesuaikan dengan syarat-syarat dari PU;
d)    Jembatan duct dengan system beton bertulang

§  Cable Crossing
Dalam pembangunan jarkab tidak dapat dihindari antara rute kabel yang harus menyeberang jalan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, tergantung pada kondisi dan situasi jalan yang di seberang kabel tersebut.

Untuk jalan kecil dan lalu-lintas tidak begitu ramai
Pembuatan terowongan kabel dapat dilakukan dengan cara menggali sepanjang rute kabel. Kedalaman penggalian harus mengikuti peraturan PEMDA setempat. Demikian pula konstruksinya harus sesuai dengan spesifikasi PT. TELKOM. Apabila jalan tersebut dilakukan pada malam hari.

Untuk Jalan besar atau jalan protokol
Cara pada butir di atas tidak dapat dilaksanakan lagi karena mengganggu kelancaran arus lalu-lintas dan perijinan dari pihak PEMDA sangat sulit didapatkan.
Mengingat kebutuhan jasa telekomunikasi meningkat terus dari tahun ke tahun, maka penambahan kapasitas jaringan kabel  harus dilakukan guna mengantisipasi kebutuhan tersebut.              Khusus untuk rute kabel yang harus menyeberang jalan, perlu dicari suatu cara bila sarana existing bawah tanah (terowongan kabel yang ada) sudah penuh terisi.
Dalam hal ini ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu :
1)    Sistem tradisional;
Salah satu sisi jalan digali secukupnya untuk ruang kerja kemudian terowongan/lubang kabel dibuat dengan menggunakan tenaga manusia. Peralatan yang digunakan masih sangat sederhana seperti : bambu, pipa PVC dan air.
Cara ini mungkin masih dapat dilaksanakan untuk kota-              kota kecil atau sedang, yaitu kota-kota yang kepadatan              lalu-lintasnya relative rendah.
Sedang untuk kota besar, khususnya kota metropolitan          seperti Jakarta, cara ini tidak diijinkan PEMDA setempat;

2)    Sistem borring
Cara yang digunakan pada sistem ini ada 2 (dua), yaitu :
a)    Menggunakan peralatan bor
Kedua sisi jalan pada ujung-ujung rute terowongan             kabel digali lubang dengan ukuran dan kedalaman tertentu.









Gambar 5.18. Pengeboran di bawah jalan raya


Lubang di sisi jalan digunakan sebagai tempat  peralatan bor dan petugas pengebor. Sedangkan lubang di          seberang jalan digunakan untuk memeriksa apakah           mata bor telah mencapai ujung satunya lagi dengan benar. Selama pengeboran berlangsung, disemprotkan air          dengan tekanan tinggi ke dalam lubang pengeboran.

Bila diameter lubang terowongan kabel besar (lebih               dari satu pipa PVC), maka pada awal pengeboran digunakan mata bor dengan diameter kecil.  
  
Kemudian bertahap menggunakan mata bor yang                   lebih besar sampai diameter lubang sesuai dengan               jumlah pipa PVC yang akan dimasukkan.
Sesudah pengeboran selesai dan lubang terowongan terbentuk, kemudian pipa PVC dimasukkan, jumlah               pipa PVC yang dipasang harus sesuai dengan jumlah              kabel yang akan ditarik ditambah cadangan sesuai             dengan ketentuan.
Apabila jumlah pipa PVC yang dimasukkan lebih dari               satu pipa, ruangan antara pipa dengan pipa lainnya                  serta antara pipa dengan lubang terowongan diisi              dengan campuran beton dengan cara dipompakan ke  dalam sela-sela (ruang antara) tersebut.
Mengingat peralan yang digunakan berukuran besar,             dan membutuhkan ruang kerja yang luas, maka itu             untuk jalan-jalan protokol di kota-kota besar pihak                 PEMDA sangat berhati-hati dalam memberi ijin borring tersebut.
Bila tidak diijinkan oleh PEMDA, biasanya meminta               agar dibuat terowongan kabel ukuran besar (tunnel)              yang dapat mengakomodasikan kebutuhan instansi               lain yang mempunyai jaringan bawah tanah selain                  PT. TELKOM.

b)        Menggunakan Peralatan ACE MOLE
ACE MOLE adalah suatu peralatan yang dapat             digunakan untuk membuat terowongan kabel tanpa menggali dan menggunakan mata bor. Cara ini sudah dilaksanakan di Jepang dan pernah dipraktekkan di Jakarta. 


(1)      Spesifikasi peralatan ini adalah sebagai berikut :
(a)      Dapat membuat lubang dengan jarak sampai 250 meter;
(b)      Diameter lubang dapat mencapai 0,3 meter;
(c)      Operasinya dapat dikendalikan oleh seorang operator yang ditempatkan di atas ruang kerja atau dekat ruang kerja (tergantung kondisi setempat);
(d)      Berat perangkat :
o   Alat penumbuk            =  1020 kg
o   Alat pendorong            =  3850 kg
o   Power unit                   =    600 kg
o   Control unit                  =    100 kg
Gambar 5.19. Peralatan ACE MOLE MODEL 301




(2)  Cara kerjanya :
Hampir serupa dengan system bor antara lain :
(a)  Tetap membutuhkan ruang kerja di dalam tanah di satu sisi jalan dan ruang lain di seberang jalan untuk arriving jack.
Luas ruang kerja yang diperlukan adalah :
·         5,4 m x 2,2 m x 4,0 m (untuk tempat peralatan)
·         4,5 m x 1,5 m x 4,0 m (untuk arriving jack).
(b)  Terowongan dibuat dengan sistem tumbukan               oleh perangkat pendorong yang ditempatkan              pada starting pit (ruang kerja di bawah tanah).
(c)  Alat pendorong ini akan bekerja mendorong            suatu unit peralatan berbentuk bulat panjang berisikan 1 (satu) unit alat penumbuk yang didalamnya dilengkapi dengan 1 (satu)                        unit transmitter.
(d)  Kegunaan transmitter adalah untuk              mengirimkan signal pada receiver yang            diletakkan di permukaan tanah, sehingga             operator dapat mengetahui arah tumbukan (menyimpang atau tidak).  

(3)  Urutan Kerja (Lihat Gambar)
(a)  Pemasangan peralatan
(b)  Penempatkan peralatan penumbuk
(c)  Proses mendorong
(d)  Pemasangan pipa
(e)  Pengambilan peralatan penumbuk pada arrival
(f)   Selesai

(g)       

Gambar 5.20. Urutan kerja pengeboran dengan ACE MOLE MODEL 301





5.2.        Terowongan Bersama

Terowongan kabel sampai saat ini, digunakan sebagai sarana bawah tanah untuk melakukan jaringan kabel melintasi suatu jalan raya.
Pada saat kota-kota besar khususnya kota Jakarta terowongan kabel dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mengakomodasikan bukan saja jaringan kabel PT. TELKOM  tetapi juga jaringan bawah tanah milik instansi lain seperti PLN, PAM, gas dan lain-lain.
Ada gagasan, agar terowongan tersebut tidak digunakan untuk crossing jalan, tetapi juga dibangun untuk sarana kabel dan uitilitas lain sepanjang jalan.

Gagasan tersebut timbul mengingat adanya hal-hal sbb :
a)    PT. TELKOM. PLN, PAM, GAS harus menggali tanah di pinggir jalan untuk menanam kabel/membangun system duct dan pipa bagi distribusi kepada para langganan;
b)    Belum adanya koordinasi terpadu diantara instansi pemilik jaringan bawah tanah dalam hal :
·         Waktu pelaksanaan
·         Dropping anggaran

Akibat hal tersebut di atas, penggalian tanah sepanjang jalan akan terus-menerus dilakukan, sehingga mengurangi keindahan kota dan kelancaran lalu lintas.
Bentuk terowongan tersebut, pernah diusulkan oleh PT> TELKOM pada panel diskusi dalam seminar Telekomunikasi di APRJ tahun 1990 sebagai berikut

§  :
Gambar 5.21. Rencanga Terowongan bersama


Keuntungan  :
  1. Terjalinnya koordinasi Instansi pemilik jaringan bawah tanah;
  2. Rapi, tertib dan bersih sepanjang jalan; 
  3. Pemeliharaan lebih mudah
  4. Kerusakan/gangguan akibat pekerjaan pihak ke-tiga dapat dihindarkan;
  5. Dapat saling memberi informasi, bila terlihat kerusakan pada masing-masing jaringan;
  6. Baik dilaksanakan untuk kota-kota yang baru berkembang.

Kerugian :
  1. Koordinasi pada saat awal pemakaian;
  2. Biaya pembangunan sangat tionggi;
  3. Desain bangunan harus benar-benar kedap air. Kuat, aman  dan mudah pemeliharaannya. Komitmen para instansi               untuk menggunakan dan membayar sewanya;
  4. Kebocoran pipa gas yang sangat membahayakan petugas;
  5. Desain bangunan disesuaikan dengan kapasitas utilitas               dan manusia harus dapat bergerak bebas, maka          kemungkinan dijadikan tempat bagi para gelandangan sulit dihindarkan;
  6. Sulit dilaksanakan pada kota-kota yang jaringan                      bawah tanahnya telah lama ada.

5.2.1.    Manhole dan Handhole
Manhole
Sebuah manhole adalah konstruksi bangunan di bawah                      tanah   yang dipergunakan untuk menempatkan  peralatan jaringan kabel dan memberikan jalan serta ruangan kepada petugas                     untuk melaksanakan pemasangan dan pemeliharaan dari peralatan tersebut.
Seperti diketahui bahwa pada route duct yang utama                manholenya besar dan sudah barang tentu mahal. Dari                 sebab itu penting untuk menempatkan manhole tersebut pada               jarak maksimum yang memungkinkan. Batas maksimum dari                jarak tersebut ditentukan oleh beberapa faktor seperti : kondisi/keadaan setempat, jarak loading, panjang maksimum tarikan dari kabel.
 
¨       Penambahan manhole biasanya disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
a)    Halangan setempat dari kondisi lapangan yang sangat sukar;
b)    Pertemuan dan percabangan dari route duct;
c)    Adanya ketentuan penempatan loading coil dan repeater;
d)    Penempatan rumah kabel (RK)

¨       Hal-hal yang penting untuk diperhatikan dalam mendesain manhole adalah sebagai berikut :
a)    Tipe dan ukuran dari kable yang hendak dipasang dalam manhole;
b)    Radius lengkungan dari kabel yang akan dipasang;
c)    System penyambungan yang akan dipasang;
d)    Jalan masuk dan ruangan yang cukup bagi petugas yang bekerja berikut peralatannya.

Ketentuan Umum Pembuatan Manhole
a)    Dalam pemasangan manhole sedapt mungkin letaknya diluruskan dengan atau sejajar dengan garis lurus dari pada bangunan gedung yang ada didekatnya;
b)    Jarak minimum antara penyangga kabel yang teratas dengan atap manhole ± 35 cm;
c)    Radius tikungan dari kabel plastik dengan penampang luar 90 mm, minimum harus 75 cm (20 x penampang luar kabel);
d)    Kedalaman manhole adalah 55 cm dari pada pipa duct yang terbawah;
e)    Jarak dari lantai manhole sampai penyangga terbawah adalah 40 cm;


f)     Jarak vertikal antara penyangga kabel adalah 22,5 cm sampai 25 cm;
g)    Jarak masing-masing penyangga secara horizontal 1 meter;
h)    Panjang nominal dari sambingan kabel antara 1 meter, tetapi tidak boleh kurang dari 0,75 meter;
i)      Ruangan harus yang cukup untuk bekerja agar bila menempatkan lebih dari satu kabel pada penyangga dapat diatur sambungan kabel secara berurutan (antar penyangga satu sambungan kabel);
j)      Panjang penyangga tergantung pada jumlah dan ukuran kabel yang akan ditempatkan;
k)    Tutup manhole pada waktu dipasang harus rata dengan permukaan tanah dan jalan;
l)      Dinding, lantai dan atap manhole terbuat dari beton bertulang dengan tebal minimum  15 cm;
m)  Penulangan tersebut harus memenuhi persyaratan beton bertulang yaitu 160 kg M3;
n)    Campuran beton yang disyaratkan adalah sebagai berikut :




·         Untuk dinding dan atap dengan perbandingan
Semen      =  1
Pasir          =  1,5
Batu pecahan =  2,5
·         Untuk lantai manhole dengan perbandingan
                  Semen =  1
Pasir  =  1,5
                  Batu pecahan      =   5
o)    Pipa PVC sebaiknya ditutup dengan tutup pipa utnuk mencegah masuknya air dan gas beracun.
1.     
Type/Bentuk manhole
1)    Desain dasar dari manhole yang akan diterapkan adalah manhole yang berbentuk


2)      :
 













Gambar 5.22. Bentuk bentuk manhole


2) Ukuran manhole bagian dalam ditentukan oleh hal-hal sebagai berikut :

a)    Jumlah kabel berikut sambungannya yang akan ditempatkan di dalam manhole tersebut;
b)    Tipe dari rak/penyangga kabel yang akan dipakai dan cara pemasangannya;

¨       Jenis Manhole :
1)    Manhole dengan pipa duct dipusatkan
Manhole ini dipakai dalam jaringan lokal untuk kabel-kabel primer dan sekunder. Untuk memudahkan penarikan kabel pada kedua ujung dipasang lobang penarik (manhole dengan kuping)
Keuntungan mempergunakan manhole dengan pipa duct dipusatkan adalah :
a)    Pada waktu penarikan kabel, letak lurus di tengah-tengah manhole, sehingga mengakibatkan tarikan menjadi lebih ringan;
b)    Oleh karena letak kabel berada di tengah-tengah manhole, maka ruang gerak untuk penarikan lebih leluasa; 

c)    Penambahan pipa pada route duct lebih mudah;
d)    Penggalian alur duct dekat pada manhole lebih sederhana dan lebih sedikit;
e)    Penyusunan/pemasukan pipa PVC pada umumnya lebih mudah

f)        .
Gambar 5.23. Bentuk manhole
Gambar 5.24. Lubang penarikan kabel

Tabel 5.2 : Standar Ukuran Manhole Dengan Pipa Dipusatkan
VJ
Type H I C
Type H II C
Jumlah Duct
Panjang
cm
Lebar
cm
Tinggi
cm
Jumlah Duct
Panjang
cm
Lebar
cm
Tinggi
cm
1
2
250
100
180




2
4
250
100
180




3
6
300
120
180




4
8
300
120
180
16
450
150
180
5
10
300
120
180
20
450
150
180
6
12
300
120
190
24
450
150
190
7
14
300
120
210
28
450
150
210

VJ
Type H III C
Type H VI C
Jumlah Duct
Panjang
cm
Lebar
cm
Tinggi
cm
Jumlah Duct
Panjang
cm
Lebar
cm
Tinggi
cm
1








2








3








4








5
30
550
180
180
40
650
210
180
6
36
550
180
190
48
650
210
190
7
42
550
180
210
56
650
210
210


Keterangan :   VJ     :  Jumlah sambungan vertical pada tiap sisi;
                        H I    :  Satu sambungan horizontal tiap sisi;
                        H III :  Tiga sambungan horizontal tiap sisi;
                        C      :  Pemasukan pipanya dipusatkan
Gambar 5.25 Manhole type H I C / 4 (8 duct)
Gambar 5.26. Manhole type H II C / 4 (16 duct)




Gambar 5.27 Manhole type H III C / 5 (30 duct)
Gambar 5.28. Manhole type H IV C / 7 (58 duct)




2)    Manhole dengan pipa duct dipisahkan
Manhole ini biasanya persegi panjang dengab pemasukan pipa duct dipisahkan dant idak dilengkapi dengan lobang penarikan kabel pada kedua ujungnya
Keuntungan yang didapat adalah :
a)    Dapat memperpendek panjang manhole;
b)    Penempatan kabel pada penyangga lebih mudah lebih sederhana;
c)    Penarikan kabel lebih sederhana karena lebih dekat pada posisi kabel yang akan ditempatkan;
d)    Terutama bagi kabel yang besar, dapat lebih mudah diatur pada posisi dimana kabel akan ditempatkan, karena lengkung dari kabel tersebut tidak begitu membesar;
e)    Kemungkinan pipa PVC merusak selubung kabel pada mulut duct sangat kecil


Tabel 5.3. Manhole dengan tipe duct dipisahkan
VJ
Type H I S
Type H II S
Jumlah Duct
Panjang
cm
Lebar
cm
Tinggi
cm
Jumlah Duct
Panjang
cm
Lebar
cm
Tinggi
cm
1
2
200
100
180




2
4
200
100
180




3
6
250
120
180
12
400
150
180
4
8
250
120
180
16
400
150
180
5
10
250
120
180
20
400
150
180
6
12
250
120
190
24
400
150
190
7
14
250
120
210
28
400
150
210

VJ
Type H III S
Type H IV S
Jumlah Duct
Panjang
cm
Lebar
cm
Tinggi
cm
Jumlah Duct
Panjang
cm
Lebar
cm
Tinggi
cm
1








2








3








4
24
500
180
180
32
600
210
180
5
30
500
180
180
40
600
210
180
6
36
500
180
190
48
600
210
190
7
42
500
180
210
56
600
210
210


Keterangan :            VJ  :  Jumlah sambungan vertikal pada tiap sisi;
                                 H I :  Satu sambungan horisontal tiap sisi;
                                 H III     :  Tiga sambungan horisontal tiap sisi;
                                 C   :  Pemasukan pipanya dipisah



Gambar 5.29 : Manhole Type H I S / 4 (8 Duct)
Gambar 5.30 : Manhole Type H II S / 4 (16 Duct)









Gambar 5.31 : Manhole Type H II S / 6 (24 Duct)
Gambar 5.32 : Manhole Type H III S / 7 (42 Duct)




Gambar 5. 33 Manhole Type H III S / 7 (56 Duct)


¨       Penyaluran air
1)    Untuk mendapatkan kondisi yang kering di dalam manhole, perlu disediakan sarana untuk menyalurkan air dari manhole. Jumlah saluran air dari manhole dan metode apa yang akan dipakai tergantung dari beberapa faktor, seeprti tipe lapangan (rata, turun, naik), jumlah pipa yang dipasang, jenis dan kepentingan kabel pada route duct tersebut serta jenis tanah yang dilalui.
2)    Sebagai pegangan diberikan ketentuan-ketentuan mengenai penyaluran air dari manhole sebagai berikut :
a)    Semua manhole harus dikeringkan dari air dimana keadaan memungkinkan dengan pengertian bahwa manhole dimana terdapat kabel-kabel penting yang harus diprioritaskan;
b)    Apabila mengeringkan semua manhole tidak mungkin, maka perlu diusahakan pengeringan tipe manhole sebagai berikut :
(1)      Manhole-manhole pada route duct yang mempunyai 4 pipa atau lebih;
(2)      Manhole untuk Rumah Kabel (RK);
(3)      Manhole yang terdapat loading coil dan Repeater;
(4)      Manhole yang digunakan untuk pengomsetan;
(5)      Manhole yang berada di bawah tempat yang becek;
(6)      Manhole di muka STO yang di dalamnya terdapat kabel-kabel yang akan masuk STO.

¨       Macam-macam system penyaluran air pada manhole :
1)    Untuk tanah kering (jauh dari sumber air)










Gambar 5. :34 Sistem penyaluran air pada manhole untuk tanah kering

2)    Manhole dekat sungai;
Gambar 5.35 Sistem penyaluran air pada manhole dekat sungai

3)    Sistem pembuangan secara bersama;


Gambar 5. :36 Sistem pembuangan secara bersama

§  Pelengkapan dalam Manhole
¨       Pada ujung pipa PVC yang belum berisi kabel  diberi tutup / stopper seperti terlihat pada gambar berikut ini;


Gambar 5.37. Stopper / tutup pipa


¨       Di dalam manhole dipasang penyangga kabel (cable bearer) yang terbuat dari besi profil yang digalvanisir dengan Zink setebal 90 mikron;
¨       Di dalam manhole juga dipasang “angker penarik kabel” dari besi bulat diameter 1 inchi yang digalvanisir dengan zink setebal 90 mikron
      Banyak angker penarik kabel ini adalah 2 (dua) buah untuk setiap manhole

§  Pra Pabrikasi Manhole (Prefabricated Concrete Manhole)
Dalam system duct, salah satu komponen/bagian penting adalah Manhole.
Di Indonesia pembuatan Manhole masih menggunakan pola dibuat di tempat, artinya Manhole dibangun pada jarak tertentu dalam route duct di lapangan.

¨       Permasalahan / kendala yang timbul, antara lain :
a)    Bila kondisi tanah banyak mengandung air, proses pengecoran akan mengalami kesulitan, karena air yang menggenang harus di pompa keluar;
b)    Selama proses pembuatan bekesting, pembesian dan pengecoran lubang tetap terbuka sehingga sering mengganggu kelancaran lalu-lintas;
c)    Kualitas Manhole, sering kali tidak kedap air karena pengecoran dilakukan tidak dalam kondisi kering.
¨       Mengingat penyelesaian proyek pembangunan jarkab berdasarkan target oriented, dimana waktu pelaksanaan pekerjaan sangat berperan, maka kendala di atas akan sangat besar pengaruhnya. Oleh karena itu, upaya mencari suatu metode lain yang lebih baik guna menghindarkan kendala tersebut di atas perlu diadakan.
¨       Salah satu metoda yang telah digunakan di Negara lain adalah membuat Manhole tidak di lapangan melainkan di pabrik.
Metoda ini disebut sebagai prefabricated concrete manholes (Pra Pabrikasi Manhole).
  
¨       Keuntungan dari metode ini :
a)    Lebih ekonomis;
b)    Pemasangan lebih cepat;
c)    Tidak terlalu lama mengganggu ketertiban lalu-lintas;
d)    Uji terima terhadap Manhole dapat lebih cermat;
e)    Pengecoran dapat dilakukan lebih berhati-hati karena dibuat di pabrik;
f)     Untuk kapasitas besar, dapat dicetak/dibuat persegmen. Satu Manhole dibagi 3 segmen yaitu pinggir/sisi duct masuk, tengah dan pinggir/sisi duct keluar.

¨       Kerugian :
a)    Untuk kapasitas sedang/besar memerlukan alat angkut (semi trailer) dan crane untuk mengankut dan menurunkan Manhole di lokasi;
b)    Pada jalan-jalan ukuran kecil, lalu-lintas dapat terganggu pada saat menurunkan Manhole dan trailer ke lubang galian;
c)    Tidak dapat menyesuaikan dengan kondisi lubang galian, bila terdapat batu-batuan, pipa PAM/gas, saluran air dan halangan lainnya.
d)    Untuk jenis Manhole ini, diperlukan dasar galian yang ebtul-betul rata, padat dan bebas halangan;
e)    Sambungan antara pipa duct dengan Manhole harus benar-benar rapat dan kedap air. Kondisi ini sangat sulit terutama bila pada lubang galian banyak terdapat air;
f)     Untuk Manhole kapasitas besar, pemasangan dan penyambungan antar segmen dilakukan di tempat. Dalam melakukan pekerjaan tersebut diperlukan dasar lubang yang padat dan rata, serta kecermatan dalam menyambung segmen-segmen manhole.

¨       Lama Instalasi
Dengan mengambil contoh di Negara Australia serta asumsi bahwa hambatan tidak ada.
1)    Pekerjaan yang dilakukan meliputi :
a)    Menggali lubang untuk Manhole;
b)    Memasang Manhole berikut menyambung pipa duct ke Manhole;
c)    Menimbun dan pengerasan tanah;
d)    Pembesihan lapangan;
e)    Waktu tidak efektif (transportasi dll)
2)    Waktu yang diperlukan :
Contoh :
Untuk pekerjaan pemasangan manhole dengan 4 pipa

a)   Gali=  5,0  manhours;
b)   Pasang   =  20,0 manhours;
c)   Penimbunan + pengerasan       =   2,0  manhours;
d)   Pembersihan =   1,0 manhours;
e)   Waktu tidak efektif =    2,0 manhours; 
 f)   Jumlah   =  30,0 manhours

;  
                                                           
Gambar 5.38. Pra pabrikasi manhole (1)
Gambar 5.39. Pra pabrikasi manhole (2)




¨       Keterangan :
1)    Ukuran Manhole :
a)   2600 mm x 1240 mm      x    1490 mm
      (panjang)   x (lebar) x              (tinggi luar)
b)   2460 mm   x 1100 mm      x    1325 mm
(panjang) x            (lebar)    x   (tinggi dalam);
2)    Brake out slots (celah/lubang dengan lapisan tipis);
      Bagian ini dapat dibongkar / dipecahkan agar          memudahkan penempatan Manhole pada pipa duct         existing.
3)    Knock out cables holes :
      Lubang yang disiapkan untuk pipa duct baru
4)    Lift hook, yaitu :
      Besi tempat memasukkan pengait guna menaikkan / menurunkan Manhole dan besi ini harus dipotong pada saat pemasangan selesai.
      Bila diperlukan duct baru, maka break cout slots dipecah kemudian diisi dengan Filler blacks, jumlahnya disesuaikan dengan kapasitas Manhole.
Untuk kota kecil yang nantinya berkembang, metoda pra prabikasi manhole sangat tepat untuk diterapkan, mengingat jaringan existing masih belum kompleks dan perijinan relative mudah.

§     Handhole
¨       Fungsi Handhole : 
      Handhole adalah ruangan bawah tanah berukuran kecil yang berfungsi untuk :
a)    Tempat sambungan kabel sekunder;
b)    Tempat Distribusi Point bawah tanah;
c)    Tempat sambungan pembagi bawah tanah;
d)    Memudahkan pemasangan kabel ke Rumah Kabel (RK)
¨       Ukuran Handhole :
      Handhole tersebut dapat dibuat terlebih dahulu (prefabricated) atau dapat juga dibuat ditempat kerja/di lokasi dengan ukuran sebagai berikut :
1)  Panjang =  0,6 m
2)  Lebar =  0,4 m
3)  Dalam =  0,4 m
      Handhole yang dimaksud dibuat dari beton dengan perbandingan campuran cor beton sebagai berikut :
Semen : Pasir : Kerikil diameter ± 2 cm = 1 : 3 : 5



Gambar 5.40. Standar Ukuran Handhole


§  Pekerjaan Pengecoran beton untuk Manhole dan Handhole
Setelah dilakukan penggalian tanah, pekerjaan pembuatan manhole / handhole dapat dimulai sesuai dengan rencana gambar desain.
¨       Pada bagian dasar dari manhole/handhole harus terdapat lapisan pasir setebal 10 cm dan pada permukaannya diberik lantai kerja dengan campuran 1 pc : 3 ps : 5 kr dengan tebal 5 cm. pelaksanaan pekerjaan selanjutnya dapat dilakukan minimal 2 hari setelah lantai kerja selesai. Hal ini untuk menunggu agar lantai kerja mengeras terlebih dahulu;
¨       Pekerjaan pemasangan besi tulangan dilakukan dengan memasang besi tulangan sebanyak dan sesuai rencana. Selanjutnya dilaksanakan pemasangan bekesting cetakan/forming. Konstruksi bekesting terbuat dari triplek dan kayu serta harus cukup kuat untuk menahan adukan beton muda;
¨       Selanjutnya dilaksanakan pekerjaan pengecoran. Hal ini dapat dilaksanakan setelah keadaan lantai kerja, bekesting, bahan material (semen, pasir dan kerikil), ukuran-ukuran dimensi manhole telah memenuhi spesifikasi yang ditentukan.
¨       Selama 24 jam setelah pengecoran, manhole harus bebas dari gangguan air (jika terdapat air di dalam manhole harus dipompa keluar dengan menggunakan pompa air). Adukan beton muda yang tidak tertutup harus dibasahi permukaannya paling sedikit 24 jam;
¨       Bekesting baru boleh dibuka setelah 21 (dua puluh satu) hari sesudah pengecoran adukan beton selesai;
¨       Dalam pembongkaran cetakan/bekesting, harus dicegah terjadinya kerusakan pada permukaan beton dan konstruksi manhole.

¨       Permukaan beton yang tidak rata harus secepatnya dieprbaiki agar tercapai satu kesatuan (monolit) dengan beton muda (cor coran) sebelumnya.
¨       Permukaan dalam manhole/handole harus rata dan kuat, diplester dengan ukuran 1 pc : 2 ps.
¨       Pembuatan tutup lubang manhole/handhole ukurannya harus tetap (standar) agar sesuai dengan ukuran dalam lubang.
Lubang manhole harus mencapai bidang permukaan tanah/jalan/trotoir.
Pengurugan tanah dapat dilaksanakan setelah beton berumur 12 hari. Pengurugan tanah dilakukan dengan cara lapis demi lapis dan dipadatkan secara merata.

5.2.2.    Penarikan Kabel Duct
§  Persiapan Penarikan
Pemilihan pipa duct yang akan dipakai
Untuk menempatkan kabel dalam duct terlebih dahulu harus dicari/dipilih pipa duct yang cocok dengan pertimbangan sebagai berikut :
a)    Jalan kabel pada rak di STQ dan terutama dimana akan ditempatkan sambungan atau pothead;
b)    Pipa duct yang akan dipakai harus dalam satu jalan sepanjang route duct tersebut;
c)    Juga dalam manhole harus satu jalan, sehingga tidak akan mempersulit penarikan kabel;
d)    Perlu diperhatikan bila timbul percabangan, maka di sisi mana dari pipa duct yang terpilih harus ditandai untuk diketahui oleh regu penarik.
¨       Kabel yang akan dipasang
Sepanjang itu memungkinkan, kabel-kabel kapasitas besar harus dimintai dengan kepanjangan tertentu sesuai dengan panjang duct antara manhole (seksi). Biasanya ditambah 3 meter untuk sambungan. Tujuannya untuk mengurangi pemakaian kabel yang tidak berguna, selain itu juga dalam penyimpanan di dalam gudang dapat mudah diambil. Untuk jelasnya lihat daftar alokasi haspel kabel

.

Tabel 5.4 : Daftar Alokasi Haspel

PEKERJAAN                       :
KABEL No.                           :
KAPASITAS KABEL            :
RENCANA ROUTE No.      : 
Seksi
Panjang
Panjang Tambahan
Jumlah Panjang
Haspel
No.
Panjang Pada Haspel

STO MH1
MH1 MH2
MH2 MH3
DST

97
164
193

3
3
3


100
167
196

124
2234
3234

102
172
200
                                             

§  Penempatan haspel kabel
Haspel kabel dinaikan di atas dongkrak kemudian ditarik dengan kendaraan atau mobil sampai pada lokasi yang ditentukan. Kemudian haspel ditempatkan di atas manhole seperti terlihat pada gambar berikut ini

.


Gambar 5.41. Posisi penempatan Haspel


§  Penempatan Winch Truck
Penempatan Winch truck harus dicari agar sedapat mungkin penarikan dilaksanakan satu arah dan tali penarik dapat masuk lurus ke dalam pipa duct.
Sesudah Winch truck ditempatkan, maka keempat roda harus diganjal, bagian belakang truk didongkrak sehingga mempunyai kekuatan tahan yang lebih besar.
Ada 2 (dua) jenis manhole yang cara penarikan kabelnya berlainan yaitu :
¨       Manhole dengan lubang pemasuk (Manhole bertelinga);
Dipasang penuntun kabel (cable guide) berupa pipa plastik dari winch truck/trailer ke arah telinga manhole. Penempatan dan jumlah penuntun kabel yang dipergunakan tidak sama pada tiap manhole.
Tujuan dipasangnya penuntun kabel adalah untuk memperlancar jalannya kabel dan memperingan penarikan, serta mengubah arah tarikan dari satu kelain arah tanpa adanya tikungan yang tajam

.

Gambar 5.42. Penarikan kabel pada manhole dengan lubang pemasuk


Tenaga yang diperlukan
a)    Supir Truck
b)    Orang yang mengatur tali Winch pada Drum
c)    2 orang untuk memutar drum
d)    Kepala Regu
e)    Orang yang mengawasi di dalam Manhole

¨       Manhole tanpa lubang pemasuk
1)       Bila digunakan pipa fleksibel (Flexible Hause) penuntun kabel maka pipa tersebut harus muncul paling sedikit 30 cm dari manhole seperti terlihat pada gambar. Saat penarikan, kulit kabel diberi pelumas berupa jelly atau carbon powder



Gambar 5.43. Mempersiapkan drum kabel (haspel)

2)       Bila tidak digunakan pipa plastik maka dipergunakan alat Bantu penarik lain seperti terlihat pada gambar berikut :

Gambar 5.44. Penarikan kabel tanpa menggunakan pipa plastik



§  Rodding duct
Rodding duct dilakukan untuk pemasangan tali pemancing pada duct.
Cara pelaksanaannya ada beberapa macam :
¨       Dengan Peniupan Parasut
a)    Tali pemancing diiaktkan pada parasut di dalam  pipa duct
b)    Parasut dihembus dengan compressor udara hingga terdorong sampai pada ujung duct pada manhole berikut
¨       Dengan penghisapan
a)    Tali nylon diletakkan di tempat manhole yang lebih tinggi dan mesin pengisap (reductor)  pada manhole yang lebih rendah.
b)    Kemudian mesin dihidupkan serta jangan sampai bocor dan asap mesin jangan sampai masuk ke manhole.
c)    Ujung tali dimasukkan ke dalam pipa yang dihisap dan ujung satunya disambungkan dengan tali/kawat penarik

Gambar 5.45. Rodding duct dengan penghisapan


¨       Dengan stick
Apabila mesin tidak berhasil menyedot tali nylon, maka kita rodding duct mempergunakan tongkat/stick dari PVC
a)    Tempatkan sejumlah stick di manhole M1 sehingga cukup untuk jarak route duct sampai dengan manhole M2
b)    Secara berurutan menyambung stick sampai stick yang terakhir disertai mendorong serta memutar stick ke arah putaran ke kanan.

c)    Setelah stick terakhir tersambung dan ternyata stick yang pertama mencapai manhole M2, maka pekerjaan selanjutnya mengikatkan tali penarik di manhole M1 pada stick terakhir tersebut.
d)    Kemudian di manhole M2 stick yang pertama ditarik sambil diputar dan dilepas secara berurutan, begitu pula stick berikutnya dilepas.
e)    Akhirnya seluruh stick tersebut ditumpuk kembali di manhole M2, dengan demikian tambang penarik akan terpasang di dalam pipa yang di rodding. Untuk jelasnya dapat dilihat dalam gambar berikut ini


Gambar 5.46. Rodding duct dengan stick


§  Pembersihan dan Pemeriksaan Duct
Untuk melakukan pekerjaan cleaning dan checking duct diperlukan peralatan antara lain :

¨       Sikat pembersih dari baja
Terbuat dari pipa yang bersikat pembersih setiap jarak/spasi 15 cm. dengan masing-masing ujungnya terpasang mata kait, yang fungsinya untuk membersihkan kotoran di dalam pipa duct yang dilaluinya dari bekas pemasangan pipa duct tersebut;

¨       Mandril
Mandril terbuat dari logam, dengan diameter sedikit lebih kecil dari diameter pipa duct (10 cm) dan panjangnya ± 87,5 cm. Fungsinya untuk mengetes keadaan pipa duct apakah dalam keadaan baik atau tidak, kemungkinan dalam pemasangan pipa duct ada pipa yang terjepit.
1)    Ujung akhir tali penarik di manhole M1 secara berurutan disambung dengan sikat pembersih kemudian mandril, serta pada ujung mandril satunya disambung lagi dengan tali penarik, sehingga di dalam pipa tetap masih ada tali penarik.
2)    Kemudian ujung tali penarik di manhole M2 ditarik sedemikian rupa sehingga akhirnya  sikat pembersih dan madril tadi dapat keluar dari pipa. Bila mandril dapat berhasil dan kotoran dapat keluar berarti pekerjaan cleaning dan checking berhasil dan selesai.
3)    Agar dapat bersih dengan sempurna, sikat pembersih dan mandril dapat dipasang kembali, tetapi arahnya dibalik yaitu dari manhole M2 kembali ke manhole M1
Untuk lebih jelasnya, lihat gambar berikut ini

:




Gambar 5.47. Sikat baja dan mandril
Gambar 5.48. Membersihkan duct dengan sikat baja dan mandril


§  Penarikan dan Meletakkan Kabel Duct
¨       Penarikan kabel duct;
1)    Kawat penarik yang terpasang di dalam pipa duct diganti dengan tali penarik kabel, yang biasanya terbuat dari kawat serabut dari baja yang terdiri dari berbagai ukuran;
Contohnya :
Warriflex 6 x 25 steel uk diameter 0,5 inchi, kekuatan kerja dapat menarik ± 2,6 sampai 3 ton tanpa putus.
2)    Pada ujung kabel dipasang kabel grip sebagai pemegang kabel, sehingga kabel tidak akan mengalami kerusakan. Kabel grip ini terbuat dari rajut baja yang berbagai macam ukurannya tergantung juga pada besar kecilnya kabel.         Pada  umumnya kabel yang mempunyai diameter lebih besar dari 45 mm, telah dilengkapi dengan cincin penarik (pulling-eye), jadi disini tidak perlu menggunakan kabel girp




Gambar 5.49. Cable Grip


3)    Cable grip disambungkan pada tali penarik kabel yang telah terpasang pada pipa duct tadi, serta dipasang alat swivel atau anti pulir;

4)    Tenaga Penarik;
Tenaga penarik di ujung manhole yang lain tergantung dari jarak route duct, kapasitas kabel yang dipasang dimana dapat berupa.
a)    Tenaga manusia seluruhnya;
Ukuran kapasittas kabel kecil, jarak manhole pendek.
b)    Tenaga manusia dan alat bantu mekanik;
Tirfor atau tackie untul kabel berukuran sedang
Peralatan Winch truck
5)    Bila penempatan  haspel dan penempatan tenaga penarik sudah selesai, maka penarikan kabel duct dapat dilaksanakan. Perlu diperhatikan  untuk mempermudah jalannya kabel di dalam pipa duct di manhole harus ada petugas yang selalu mengawasi jalannya kabel dan memberi pelumas (misalnya : gemuk) pada kabelnya untuk membantu lancarnya kabel.
6)    Pergunakan alat walky-talky untuk hubungan dari manhole satu ke manhole kedua, jadi bila terjadi kemacetan pada haspel bisa diberitahukan dengan cepat supaya menghentikan penarikan
7)    Pekerjaan penarikan kabel duct harus dilaksanakan dengan hati-hati untuk mencegah rusaknya alat ataupun terjadi kecelakaan terhadap pekerjaan atau masyarakat lain.

§  Meletakkan kabel duct di manhole
Kabel-kabel duct yang baru dipasang di dalam pipa duct sebaiknya dibiarkan dahulu minimal satu hari setelah penarikan. Untuk mencegah posisi kabel berubah karena pengaruh kemungkinan mengerutnya kabel, akibat dari pekerjaan penyambungan dan terminasi.
Meletakkan kabel duct di dalam manhole sebaiknya di sebelah kanan atau kiri dari arah route duct di dinding manhole, sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu waktu pekerjaan penarikan/pencabutan kabel lewat manhole tersebut. Sekalipun kabel duct hanya melalui manhole tanpa ada sambungan kabel posisinya tetap seperti tersebut di atas.
Catatan : 
Lubang-lubang pipa duct di dalam manhole yang belum dipasang kabel duct/masih kosong harus ditutup dengan stopper

.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;